Repelita Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik paling kritis dalam sejarah modern setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Meninggalnya tokoh yang telah memegang kekuasaan absolut di Iran sejak 1989 ini disebut-sebut telah membuka "Kotak Pandora" yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.
Di tengah simpang siur informasi yang beredar di berbagai platform media sosial, masyarakat dunia kini bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik operasi militer besar-besaran tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pernyataan resminya menyebut serangan ini sebagai salah satu ofensif militer paling luar biasa dan kompleks yang pernah disaksikan dunia selama beberapa dekade terakhir.
Israel dan Amerika Serikat ternyata telah merencanakan operasi rahasia ini selama berbulan-bulan, menargetkan secara presisi pusat komando Garda Revolusi, sejumlah situs rudal strategis, hingga fasilitas pertahanan udara Iran.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi ini merupakan hasil perencanaan matang dan koordinasi erat yang dilakukan bersama Amerika Serikat di tingkat tertinggi pemerintahan mereka.
Salah satu serangan pertama yang dilancarkan dikabarkan menghantam tepat di dekat kantor Khamenei, tokoh berusia 86 tahun yang menjadi simbol kekuasaan rezim teokrasi di Teheran.
Hingga Minggu waktu setempat, media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas akibat rangkaian pengeboman yang dilakukan secara bergelombang tersebut.
Tragedi memilukan juga terjadi di selatan Iran, di mana sebuah sekolah anak perempuan terkena dampak serangan yang menewaskan sedikitnya 165 orang.
Presiden Trump dalam pernyataan videonya menegaskan bahwa pemboman intensif akan terus berlanjut hingga seluruh target militer yang telah ditetapkan tercapai sepenuhnya.
Ia juga mendesak rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan kepemimpinan teokrasi yang kini tengah goyah akibat kekosongan kekuasaan di level tertinggi.
Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei yang telah memegang kekuasaan absolut sejak 1989 menciptakan kekosongan kekuasaan yang sangat berbahaya di negeri para Mullah tersebut.
Saat ini, Iran telah membentuk dewan pemerintahan sementara dan mereka sedang berpacu dengan waktu untuk menunjuk pemimpin tertinggi yang baru di tengah bayang-bayang serangan yang masih berlanjut.
Dampak serangan ini tidak berhenti di Teheran, melainkan segera meluas setelah Iran meluncurkan aksi balasan ke sejumlah negara tetangga.
Iran segera meluncurkan ratusan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta wilayah Israel.
Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi tiga anggota layanan mereka gugur dalam serangan balasan yang dilancarkan Tehran tersebut.
Sementara itu, ledakan hebat juga mengguncang Tel Aviv, dengan laporan sembilan orang tewas akibat hantaman rudal di sebuah sinagoga di Beit Shemesh.
Kelompok Houthi di Yaman juga bersumpah akan kembali mengacaukan jalur pelayaran strategis Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.
Inggris, Prancis, dan Jerman melalui pernyataan bersama para pemimpin mereka menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat guna melumpuhkan kemampuan rudal Iran.
Namun demikian, mereka juga menyuarakan kekhawatiran yang mendalam atas keselamatan warga sipil dan stabilitas sistem internasional yang kian tergerus akibat konflik terbuka ini.
Dunia kini memelototi Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, karena jika jalur ini tidak aman maka pasokan energi global akan terganggu hebat.
Perusahaan pelayaran internasional bahkan sudah mulai menghentikan aktivitas di Terusan Suez, yang berpotensi memicu lonjakan harga barang secara global.
Jika Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, pasar energi dunia dipastikan akan mengalami guncangan hebat yang berdampak pada perekonomian berbagai negara.
Meski perang tengah berkecamuk, jalur diplomasi ternyata belum sepenuhnya mati dan masih ada secercah harapan yang coba diupayakan.
Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi yang selama ini berperan sebagai mediator kawasan, menegaskan bahwa pintu negosiasi harus tetap terbuka lebar.
"Perang tidak boleh memadamkan harapan akan perdamaian," tulisnya melalui akun media sosial X pada 2 Maret 2026.
Kabar mengejutkan juga datang dari Gedung Putih, di mana seorang pejabat senior menyebut adanya sinyal dari "kepemimpinan baru" di Iran yang mungkin terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat.
Dunia kini menanti dengan cemas, apakah jalur diplomasi mampu meredam "kotak pandora" yang telah terbuka ini, atau justru Timur Tengah akan tenggelam dalam perang yang jauh lebih luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

