Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

[ NGERI] Pertama Dalam Sejarah Dunia: Iran Gempur 15 Negara dan Aset Militer dalam 24 Jam

Repelita Online - Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.

Iran dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran yang menargetkan aset milik Amerika Serikat, Israel, Inggris, dan Prancis di berbagai lokasi strategis.

Operasi militer ini berlangsung dengan kecepatan luar biasa, di mana eskalasi meningkat tajam hanya dalam hitungan jam.

Untuk pertama kalinya, sebuah negara secara langsung atau tidak langsung menyerang 15 negara berbeda beserta aset militer mereka hanya dalam periode 24 jam.

Teheran disebut melakukan pemboman tepat sasaran yang dampaknya meluas ke berbagai titik penting di Timur Tengah dan sekitarnya, tidak terbatas pada satu negara saja.

Berikut adalah daftar 16 wilayah yang menjadi sasaran serangan Iran dalam 24 jam:

  1. Irak - Pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat menjadi target serangan.
  2. Bahrain - Markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain mendapatkan serangan.
  3. Uni Emirat Arab - Radar THAAD di Al-Ruwais dan pangkalan militer di UEA menjadi sasaran pemboman.
  4. Arab Saudi - Pangkalan militer dan fasilitas minyak Arab Saudi tidak luput dari serangan.
  5. Kuwait - Pangkalan Ali Al-Salem yang merupakan pangkalan militer AS di Kuwait ikut dibombardir.
  6. Siprus - Pangkalan Akrotiri milik Inggris yang berada di Siprus menjadi target serangan.
  7. Qatar - Pangkalan Udara Al Udeid yang menjadi markas CENTCOM AS di Qatar mendapatkan serangan.
  8. Israel - Fasilitas nuklir Dimona, pangkalan militer, dan pusat komando di Israel diserang.
  9. Yordania - Pangkalan militer di wilayah perbatasan Yordania menjadi sasaran pemboman.
  10. Laut Arab - Kapal induk dan kapal perang Amerika Serikat yang beroperasi di Laut Arab menjadi target.
  11. Selat Hormuz - Kapal tanker minyak dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz diserang.
  12. Oman - Fasilitas strategis milik Oman di kawasan Selat Hormuz ikut terkena dampak serangan.
  13. Suriah - Pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di timur Suriah menjadi target.
  14. Pangkalan Prancis (Camp de la Paix, UEA) - Fasilitas militer milik Prancis yang berlokasi di Uni Emirat Arab mendapatkan serangan.
  15. Pangkalan Inggris (Akrotiri, Siprus) - Pangkalan milik Inggris yang berada di Siprus menjadi sasaran pemboman.
  16. Pangkalan Italia (NATO di Ali Al-Salem, Kuwait) - Kamp NATO yang merupakan fasilitas Italia di Kuwait ikut dibombardir.

Serangan tersebut menyasar markas besar militer, pangkalan, radar angkatan laut, kapal induk, hingga kapal tanker minyak.

Artinya, operasi ini tidak hanya berfokus pada daratan, tetapi juga jalur-jalur laut yang strategis bagi perdagangan dan militer dunia.

Iran menegaskan bahwa pemboman tidak akan pernah berhenti meskipun Pemimpin Tertinggi Republik Islam, Ayatollah Ali Khamenei, gugur dalam serangan sebelumnya.

Dunia kini menanti dengan napas tertahan setelah Iran mengancam akan melancarkan serangan yang semakin banyak dan dahsyat.

Skala serangan yang belum pernah terjadi ini menunjukkan pola operasi yang terkoordinasi dengan jangkauan luar biasa.

Di kawasan Timur Tengah, Israel menjadi sasaran serangan ke fasilitas nuklir Dimona, sejumlah pangkalan militer, dan pusat komando.

Arab Saudi mendapatkan serangan yang menargetkan pangkalan militer dan fasilitas minyak mereka.

Uni Emirat Arab menjadi target dengan dihancurkannya radar THAAD di Al-Ruwais beserta pangkalan militernya.

Qatar merasakan dampak serangan di Pangkalan Udara Al Udeid yang merupakan markas CENTCOM AS.

Kuwait menjadi salah satu sasaran dengan serangan ke Pangkalan Ali Al-Salem yang merupakan pangkalan militer AS.

Yordania tidak luput dari serangan yang menyasar pangkalan militer di wilayah perbatasan mereka.

Irak menjadi target pada pangkalan militer yang selama ini menampung pasukan Amerika Serikat.

Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima AS, juga ikut terbakar dalam gelombang serangan ini.

Oman terkena dampak pada fasilitas-fasilitas strategis yang berada di kawasan Selat Hormuz.

Suriah menjadi sasaran serangan yang menargetkan pangkalan militer AS di wilayah timur negara tersebut.

Memasuki kawasan Eropa dan Mediterania, Siprus menjadi target melalui serangan ke Pangkalan Akrotiri milik Inggris.

Pangkalan Inggris di Akrotiri, Siprus mendapatkan serangan langsung dari militer Iran.

Prancis mendapatkan serangan di Camp de la Paix, fasilitas mereka yang berlokasi di Uni Emirat Arab.

Italia turut merasakan dampak dengan diserbunya kamp NATO di Pangkalan Ali Al-Salem, Kuwait.

Di wilayah perairan strategis, Laut Arab menjadi medan pertempuran dengan ditargetkannya kapal induk dan kapal perang AS.

Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital dunia, juga tidak luput dengan serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintas.

Jika dihitung secara terpisah, total menjadi 16 titik serangan yang tersebar di berbagai wilayah.

Ini adalah rekor yang mencengangkan karena belum pernah ada aktor non-negara adidaya yang mampu melancarkan serangan simultan dengan jangkauan geografis seluas ini.

Setiap target yang dipilih Iran tidak bersifat membabi buta, melainkan dengan perhitungan strategis yang matang.

Melumpuhkan pusat komando musuh menjadi prioritas utama dalam perang modern, terbukti dengan diserangnya pangkalan udara dan markas besar.

Sistem radar canggih yang digunakan untuk mendeteksi ancaman udara dan laut dihancurkan di beberapa lokasi, membuat pertahanan udara musuh menjadi buta.

Kapal induk AS yang beroperasi di Laut Arab dan Teluk menjadi target simbolis kekuatan proyeksi militer Amerika.

Menyerang dan melumpuhkan kapal induk adalah pukulan telak terhadap reputasi dan kapabilitas militer superpower tersebut.

Dengan menyerang kapal tanker, Iran mengirim pesan keras ke pasar energi global bahwa tidak ada yang aman.

Gangguan di Selat Hormuz dan Laut Arab bisa memicu lonjakan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Serangan ke fasilitas nuklir Dimona di Israel dan radar THAAD di UEA menunjukkan Iran mampu menembus sistem pertahanan tercanggih sekalipun.

Pangkalan Akrotiri di Siprus milik Inggris, Camp de la Paix di UEA milik Prancis, dan kamp NATO di Kuwait milik Italia menjadi target yang memperluas konflik hingga ke Eropa dan NATO.

Kecepatan operasi dalam 24 jam ini menjadi sorotan utama para analis militer dunia.

Ritme cepat seperti ini menekan sistem pertahanan dan respons diplomatik lawan secara maksimal.

Sistem pertahanan musuh kewalahan karena rudal datang dari berbagai arah secara simultan.

Sistem seperti Iron Dome, Patriot, atau THAAD sulit merespons secara optimal menghadapi serangan massal ini.

Koordinasi komandan musuh terganggu karena mereka sibuk memadamkan api di satu front, sementara front lain terbakar.

Respons diplomatik tertinggal karena diplomasi butuh waktu, sementara serangan terjadi lebih cepat dari kemampuan diplomat untuk bereaksi.

Efek psikologis berhasil dimaksimalkan karena publik di 16 wilayah sasaran bangun dengan berita bahwa daerah mereka diserang, menciptakan kepanikan meluas.

Iran mencatatkan diri sebagai negara pertama dalam sejarah yang menyerang 16 titik berbeda di berbagai negara sendirian dalam periode 24 jam.

Klaim ini, jika terbukti sepenuhnya, akan masuk dalam buku sejarah militer dunia.

Serangan terhadap aset di Siprus dan fasilitas yang terkait dengan Prancis serta Italia memperluas dimensi konflik ke Eropa.

Ini bukan lagi konflik dua negara, melainkan telah menjadi isu keamanan multinasional.

NATO kini terseret dan menghadapi tekanan untuk merespons setelah pangkalan Inggris di Siprus, kamp Italia di Kuwait, dan fasilitas Prancis di UEA diserang.

Uni Eropa terbelah karena negara-negara anggotanya mungkin berbeda pendapat tentang respons, ada yang ingin keras dan ada yang menginginkan diplomasi.

Pasar energi global mengalami kekacauan dengan harga minyak yang diprediksi melonjak melebihi rekor tertinggi.

Inflasi global dipastikan akan memburuk sebagai dampak dari kenaikan harga energi.

Aliansi regional diuji karena negara-negara Teluk yang menjadi sasaran harus memutuskan apakah akan merespons sendiri atau meminta bantuan AS.

Rusia dan Cina diperkirakan akan memainkan peran diplomasi kompleks dengan mendorong de-eskalasi sambil diam-diam mendukung Iran.

Selain itu, serangan ke kapal tanker minyak dan pelabuhan meningkatkan kekhawatiran soal stabilitas energi global.

Jalur distribusi energi global sangat sensitif terhadap gangguan militer sekecil apa pun.

Setiap serangan di Selat Hormuz atau Laut Arab langsung terasa dampaknya di pompa bensin seluruh dunia.

Harga minyak dunia melonjak setelah setidaknya tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz.

Dua kapal telah terkena serangan dan sebuah proyektil tak dikenal dilaporkan meledak sangat dekat dengan kapal ketiga, menurut Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).

Iran telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melewati selat tersebut karena kapal-kapal itu mengangkut sekitar 20 persen minyak dan gas dunia.

Pengiriman internasional nyaris terhenti di pintu masuk selat, dan para analis memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat mendorong harga minyak melonjak lebih tinggi lagi.

Pada perdagangan pagi di Asia, minyak mentah Brent naik lebih dari 7 persen menjadi 78,25 dolar AS per barel.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan tiga kapal tanker dari Inggris dan AS telah terkena rudal dan terbakar.

Setidaknya 150 kapal tanker telah berlabuh di perairan teluk di luar Selat Hormuz, meskipun beberapa kapal Iran dan China telah melewatinya.

Sebuah kapal tanker minyak bahkan dilaporkan tenggelam setelah ditembak saat mencoba melintasi Selat Hormuz secara ilegal.

Stasiun tv Pemerintah Iran melaporkan bahwa nasib kapal tanker minyak yang dihantam saat mencoba melewati Selat Hormuz secara ilegal adalah tenggelam.

Rekaman yang disiarkan memperlihatkan asap hitam tebal membubung dari kapal tanker yang terbakar di tengah laut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia karena sekitar seperempat minyak dunia yang diangkut melalui laut melintasi selat tersebut.

Posisi Iran di pantai utara Selat Hormuz memberi Teheran kendali atas jalur-jalur utama menuju selat tersebut.

Volume besar minyak mentah dari negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengalir melalui selat ini sebelum dikonsumsi secara global.

Qatar sebagai salah satu produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia juga sangat bergantung pada selat tersebut untuk mengekspor LNG-nya.

Di tengah ketegangan ini, Iran telah melancarkan serangan hingga gelombang kesembilan terhadap Israel dan target-target AS di Timur Tengah.

IRGC mengklaim angkatan udara Iran berhasil menghancurkan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dalam serangan di Al Dhannah, Uni Emirat Arab.

Dampak ekonomi langsung terasa dengan harga minyak di pasar Asia pada pembukaan perdagangan Brent London naik menjadi 80 dolar AS per barel, terjadi kenaikan harga 13 persen.

Sejak serangan Israel yang didukung AS ke Iran, harga minyak terus merangkak naik dari posisi sebelumnya.

Direktur Bagian Timur Tengah dan OPEC pada lembaga analis Kpler memperkirakan harga minyak bisa terus naik hingga 99 dolar AS per barel.

Para pedagang mengungkapkan pasokan minyak dari Iran dan tempat lain di Timur Tengah akan melambat atau terhenti.

Perusahaan perkapalan besar dunia sudah mengeluarkan keterangan tentang menghentikan pelayaran melintasi Selat Hormuz.

Selain itu, perairan Laut Merah kembali berbahaya setelah Houthi di Yaman menyatakan menyerang kapal-kapal terkait Amerika Serikat dan Israel.

Sekurangnya 60 kapal niaga Perancis terperangkap di Teluk Persia karena penutupan Selat Hormuz.

Kapal-kapal niaga Perancis diperintahkan Angkatan Laut Perancis untuk mencari pelabuhan aman di Teluk Persia.

Dua perusahaan besar perkapalan, yakni Mediterranean Shipping Company (MSC) dan Maersk, mengeluarkan peringatan bagi armada mereka di Teluk Persia.

Maersk menyatakan akan menunda pelayaran melintasi Selat Hormuz dengan pertimbangan keselamatan awak, kapal, dan kargo.

MSC mengungkapkan armada mereka yang berada di Teluk Persia atau menuju ke sana diperintahkan untuk sandar di pelabuhan aman terdekat.

Keputusan Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional menjadi babak paling krusial dalam eskalasi konflik Timur Tengah.

Penutupan Selat Hormuz diumumkan secara resmi oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui siaran radio frekuensi tinggi pada Sabtu (28/2/2026).

IRGC menegaskan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi jalur air strategis tersebut hingga waktu yang tidak ditentukan.

Beberapa kapal yang berada di sekitar selat dilaporkan menerima transmisi VHF langsung dari otoritas Iran yang melarang mereka melintas.

Efek domino segera terjadi dengan perusahaan minyak besar dan pelaku perdagangan internasional menangguhkan pengiriman minyak mentah.

Citra satelit dari pelacak tanker menunjukkan antrean kapal mengular di dekat pelabuhan-pelabuhan utama kawasan Teluk.

Angkatan Laut Inggris menilai perintah penutupan Iran tidak mengikat secara hukum internasional namun tetap mengimbau kapal-kapal agar melintas dengan kehati-hatian tinggi.

Sikap lebih keras datang dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang memperingatkan operator kapal untuk menghindari seluruh kawasan berisiko.

Keselamatan pelayaran tidak dapat dijamin demikian peringatan dari pihak AS yang meminta semua kapal menjauhi zona konflik.

Inggris, Jerman, dan Prancis mengutuk Iran karena membalas serangan AS-Israel dengan serangan ke negara-negara di Timur Tengah yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam serangan Iran.

Mereka menegaskan tidak berpartisipasi dalam serangan tersebut namun tetap berhubungan dekat dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu di kawasan.

Iran harus menahan diri dari serangan militer yang tidak pandang bulu demikian desakan tiga negara Eropa tersebut.

Di tengah serangan yang terus berlanjut, Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Teheran lebih memilih untuk melanjutkan perang daripada duduk satu meja perundingan dengan musuh bebuyutannya.

Pilihan ini menunjukkan determinasi tinggi Iran dalam menghadapi tekanan internasional.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Respons balasan dari negara-negara yang menjadi korban serangan akan menentukan arah konflik ke depan.

Jika konflik berkepanjangan, dampaknya tidak hanya akan dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi seluruh dunia.

Ekonomi global yang masih dalam masa pemulihan pasca pandemi akan terpukul kembali.

Harga energi yang melonjak akan memicu inflasi di berbagai negara.

Masyarakat dunia harus bersiap menghadapi masa-masa sulit akibat gejolak geopolitik ini.

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved