
Repelita Jakarta - Lonjakan harga minyak dunia dipicu penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat beserta Israel dengan Iran sehingga menambah beban signifikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira memperkirakan harga minyak mentah global dapat melonjak hingga kisaran seratus hingga seratus dua puluh dolar Amerika per barel apabila eskalasi konflik tersebut semakin meluas.
Penutupan Selat Hormuz dinilai sangat krusial karena jalur tersebut menjadi titik distribusi energi paling strategis di dunia sehingga gangguan di sana langsung mengganggu sekitar dua puluh persen pasokan minyak secara global.
Situasi semakin rumit karena banyak kapal logistik menolak melintasi wilayah konflik akibat penolakan pengajuan asuransi oleh penyedia layanan terkait.
Indonesia termasuk negara yang sangat rentan terhadap gejolak harga minyak mengingat posisinya sebagai net importir minyak sehingga kenaikan harga akan langsung berdampak pada keuangan negara.
Berdasarkan simulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun dua ribu dua puluh enam setiap peningkatan satu dolar Amerika per barel di atas asumsi dasar berpotensi menambah belanja negara sekitar sepuluh koma tiga triliun rupiah.
Jika harga minyak mencapai seratus hingga seratus dua puluh dolar Amerika per barel maka belanja negara berisiko melonjak hingga lima ratus lima belas triliun rupiah pada tahun tersebut yang mencakup subsidi bahan bakar minyak subsidi listrik serta tekanan pada Pertamina.
Kenaikan harga energi tersebut diproyeksikan menciptakan tekanan fiskal berat bagi pemerintah terutama jika konflik berlangsung lama sehingga membatasi ruang untuk mendanai program prioritas lainnya.
Penutupan Selat Hormuz dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel yang dianggap mengecewakan pimpinan tinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Brigadir Jenderal Garda Revolusi Islam Iran Ibrahim Jabari menyatakan bahwa penutupan jalur tersebut sedang dilaksanakan oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran pada Minggu satu Maret dua ribu dua puluh enam.
Informasi penutupan Selat Hormuz telah disebarkan luas termasuk melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran yang melarang seluruh kapal melintas di kawasan tersebut sebagaimana diungkap pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa Apsides.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

