
Repelita Jakarta - Hamas menyatakan kesedihan mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei yang dipandang sebagai kehilangan figur sentral dalam Poros Perlawanan serta pendukung utama perjuangan kemerdekaan Palestina.
Bagi gerakan perlawanan di Gaza kepergian Khamenei bukan sekadar hilangnya seorang pemimpin negara melainkan runtuhnya pilar penyangga terpenting dalam jaringan solidaritas ideologis melawan pendudukan Israel.
Hamas dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan dari pusat komando mereka menggambarkan Khamenei sebagai arsitek utama yang secara teguh menempatkan isu Palestina serta pembebasan Al-Quds sebagai prioritas utama kebijakan luar negeri Republik Islam Iran.
Kehilangan ini dirasakan sebagai kehilangan pelindung spiritual yang konsisten memperjuangkan kemerdekaan Al-Quds di tengah tekanan isolasi internasional yang dialami Gaza.
Dunia Islam telah kehilangan pemimpin yang tak pernah gentar menghadapi hegemoni Barat dan ambisi zionis demikian bunyi pernyataan resmi Hamas.
Ucapan duka tersebut disampaikan pada saat Iran berada dalam kondisi sulit akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat serta Israel pada Sabtu dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Hamas menegaskan bahwa ikatan dengan Teheran telah melampaui dimensi pragmatis dan berkembang menjadi persaudaraan yang dipersatukan oleh musuh bersama.
Kematian Khamenei dipandang sebagai pengorbanan tertinggi seorang pemimpin dalam perjuangan panjang melawan pendudukan Israel.
Di balik ungkapan belasungkawa tersimpan kekhawatiran mendalam mengenai kelanjutan dukungan logistik serta militer bagi Hamas apabila proses suksesi kepemimpinan di Teheran menghasilkan perubahan arah kebijakan yang lebih moderat atau justru lebih tidak stabil.
Meskipun diliputi duka Hamas tetap mengumandangkan narasi mati satu tumbuh seribu dengan keyakinan bahwa darah Khamenei akan menjadi pendorong baru bagi gelombang perlawanan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Bagi Israel pernyataan duka dari Hamas menjadi bukti bahwa hubungan antara pusat komando dan garis depan perlawanan masih tetap terjalin erat.
Solidaritas tersebut menjadi peringatan serius bagi Tel Aviv bahwa operasi terhadap Khamenei tidak serta merta melemahkan kelompok militan di lapangan melainkan berpotensi menyatukan mereka dalam kemarahan yang lebih intens.
Pertanyaan krusial kini mengarah pada apakah pemimpin pengganti Khamenei kelak akan mempertahankan kedekatan emosional serta komitmen finansial yang setara terhadap Hamas atau Gaza akan dipaksa menghadapi badai konflik secara mandiri di tengah eskalasi yang semakin memanas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

