Repelita Teheran - Ketegangan global mencapai titik paling kritis setelah seorang ulama senior Iran mengeluarkan fatwa jihad wajib terhadap Amerika Serikat serta Israel menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Ayatollah Naser Makarem Shirazi salah satu marja taqlid paling berpengaruh di kalangan Syiah secara resmi menyatakan kewajiban agama bagi seluruh umat Islam untuk membalas dendam atas kematian tersebut.
Dalam pernyataan yang dikutip dari DD_Geopolitik pada Minggu tanggal satu Maret dua ribu dua puluh enam ia menegaskan bangsa Iran dan dunia Islam adalah pembalas darah pemimpin revolusi yang gugur pelaku utama kejahatan ini adalah pemerintah AS yang arogan dan rezim Zionis yang terkutuk dan pembalasan ini adalah kewajiban agama bagi semua Muslim di seluruh dunia untuk melenyapkan para penjahat ini dari dunia.
Fatwa tersebut bukan sekadar pernyataan politik melainkan perintah keagamaan yang mengikat jutaan pengikutnya di berbagai penjuru dunia.
Ayatollah Shirazi menegaskan balas dendam adalah kewajiban semua muslim di seluruh dunia untuk memberantas kejahatan para kriminal ini dari dunia.
Seruan ini membuka dimensi baru dalam konflik yang sudah berlangsung lama karena tidak lagi terbatas pada pertempuran militer konvensional melainkan menyerukan partisipasi aktif umat Islam di mana pun berada.
Ayatollah Makarem Shirazi bukan ulama biasa melainkan otoritas tertinggi dalam hierarki keagamaan Syiah sehingga kata-katanya memiliki bobot luar biasa dalam menggerakkan massa.
Sebelumnya komisi keamanan nasional parlemen Iran telah memperingatkan bahwa serangan terhadap pemimpin tertinggi berarti deklarasi perang terhadap seluruh dunia Islam dan harus menunggu dekrit jihad dari para cendekiawan agama.
Kini peringatan itu telah menjadi kenyataan melalui fatwa yang dikeluarkan Ayatollah Shirazi.
Ia menekankan bahwa Pemimpin Tertinggi memegang posisi luar biasa dalam sistem kepercayaan mereka sehingga kematiannya bukan hanya kehilangan pemimpin politik melainkan serangan terhadap eksistensi umat Islam secara keseluruhan.
Seruan ini datang setelah peristiwa besar yang mengubah lanskap politik Iran serta kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei merupakan tantangan terbuka bagi umat muslim dunia dan Israel akan menerima respons yang menghancurkan.
Gerakan perlawanan seperti Jihad Islam Palestina menyatakan dukungan penuh terhadap seruan tersebut dan menyebut agresi AS-Israel sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam seluruh kawasan.
Para analis militer kini mengamati potensi mobilisasi massa di berbagai negara muslim akibat fatwa ini.
Seruan untuk melenyapkan musuh dari muka bumi menunjukkan bahwa target bukan lagi sekadar kepentingan politik melainkan eksistensi yang lebih luas.
Dunia internasional menanti apakah fatwa ini akan memicu gelombang aksi baru atau tetap menjadi retorika yang menguatkan posisi internal Iran.
Eskalasi retorika ini menambah dimensi personal dalam konflik yang semakin kompleks dan berbahaya bagi stabilitas regional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

