Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Tere Liye Kutuk Sikap Pelaku Penjambretan dan Pengacaranya yang Klaim Korban, Sebut Tindakan “Gawe Buyan”

 

Repelita Sleman - Pernyataan pengacara keluarga pelaku penjambret yang tewas dalam pengejaran memicu berbagai reaksi di masyarakat.

Pengacara tersebut dalam pernyataannya membawa-bawa nama Tuhan dan menegaskan bahwa keluarga tidak akan memaafkan pelaku.

Ia juga menyinggung soal pemberian uang tali asih sebagai salah satu pertimbangan agar kasus ini tidak dilanjutkan ke proses hukum.

Pernyataan itu disampaikan dalam konteks Hogi Minaya, suami korban penjambretan yang kini berstatus tersangka, belum juga ditahan meskipun diduga memiliki kekuatan yang luar biasa.

Pengacara itu menegaskan bahwa keluarga almarhum tidak akan pernah memaafkan Hogi Minaya baik secara lahir maupun batin.

Keyakinan itu disampaikan berdasarkan pesan yang diterima dari orang tua almarhum yang telah menyatakan sikap tegasnya.

Ia juga menyatakan kepercayaannya bahwa pada akhirnya hukum Tuhan akan berlaku bagi siapa pun yang bersalah meskipun hukum dunia seolah belum menjangkau mereka.

Pernyataan ini disampaikan dengan nada emosional dan penuh keyakinan terhadap keadilan yang bersifat ilahiah.

Menanggapi hal tersebut, penulis ternama asal Sumatera Selatan Tere Liye memberikan respons melalui akun Facebook pribadinya pada 12 Juni.

Tere Liye secara tegas menyampaikan permintaan maaf atas nama penduduk Sumatera Selatan terkait tindakan pelaku penjambretan beserta pihak-pihak yang terlibat seperti pengacara dan aparat penegak hukum.

Ia berharap publik memahami bahwa tidak semua orang dari Sumatera Selatan memiliki pola pikir seperti yang ditunjukkan oleh pelaku dan pengacaranya dalam kasus ini.

Tere Liye lebih lanjut mengkritik sikap pelaku yang justru bertindak lebih galak padahal dialah yang memulai seluruh kejadian kriminal tersebut.

Dalam pernyataannya, ia menggunakan istilah lokal "gawe buyan" untuk menggambarkan tindakan pelaku yang dianggap sangat tidak masuk akal dan bodoh.

Istilah tersebut dalam percakapan informal di Sumatera bermakna perbuatan sinting atau tindakan konyol yang dilakukan di luar batas kewajaran dan akal sehat.

Ungkapan ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku yang justru mengklaim sebagai korban padahal jelas-jelas merupakan pelaku kejahatan awal.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved