Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Analis Israel Bongkar Kegagalan Intelijen Shin Bet: Tidak Punya Agen di Hamas Sejak 2005, Serangan 7 Oktober 2023 Tanpa Terdeteksi

Repelita Yerusalem - Analis Israel Nadav Eyal mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kegagalan intelijen Israel dalam mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam tulisannya di surat kabar Yediot Aharonot, Eyal menyatakan bahwa sejak penarikan Israel dari Jalur Gaza tahun 2005, badan inteljen Shin Bet tidak memiliki satu pun agen yang signifikan di dalam kepemimpinan militer atau politik Hamas.

Fakta keterputusan intelijen ini dinilai sebagai penyebab utama kegagalan Israel dalam memprediksi serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh kelompok tersebut. Eyal menggambarkan Hamas sebagai kelompok paling sulit dikendalikan di Timur Tengah dengan karakteristik organisasi yang tertutup, rahasia, disiplin, ideologis, dan terorganisir dengan baik.

Israel menduduki Jalur Gaza pertama kali pada tahun 1967 setelah memenangkan Perang Enam Hari melawan koalisi negara-negara Arab. Perang yang berlangsung dari 5 hingga 10 Juni 1967 tersebut dimenangkan secara telak oleh Israel atas Mesir, Yordania, dan Suriah.

Dalam waktu sangat singkat, Israel berhasil merebut wilayah-wilayah strategis termasuk Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir. Wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur berhasil direbut dari Yordania sementara Dataran Tinggi Golan diambil alih dari Suriah.

Sebelum pendudukan Israel, Jalur Gaza berada di bawah kendali Mesir setelah Perang Arab-Israel tahun 1948. Mesir mengelola wilayah tersebut melalui pemerintahan gubernur militer dari tahun 1949 hingga 1967 meskipun tidak pernah secara resmi melakukan aneksasi.

Setelah kekalahan Mesir dalam Perang Enam Hari, Israel kemudian menduduki Gaza selama tiga puluh delapan tahun mulai dari 1967 hingga 2005. Selama periode pendudukan tersebut, Israel memberlakukan pemerintahan militer langsung dan membangun permukiman Yahudi di wilayah Gaza.

Pada Agustus hingga September 2005, Israel melaksanakan Rencana Disengagement dengan menarik seluruh pasukan militer dari Gaza. Sekitar delapan hingga sembilan ribu pemukim Israel yang tinggal di wilayah tersebut juga dipindahkan dalam operasi besar-besaran tersebut.

Meskipun telah menarik diri secara fisik dari Gaza, Israel tetap mempertahankan kendali atas wilayah udara, perbatasan darat, dan garis pantai wilayah tersebut. Kebijakan ini menciptakan situasi dimana Gaza secara de facto masih berada di bawah pengawasan dan kontrol Israel.

Setelah penarikan militer Israel tersebut, kelompok Hamas memenangkan pemilihan legislatif pada tahun 2006. Pada tahun 2007, Hamas mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza dan mempertahankan kekuasaannya hingga saat ini.

Ketiadaan agen intelijen yang efektif dalam struktur Hamas selama hampir dua dekade menjadi celah keamanan serius bagi Israel. Kemampuan Hamas dalam menjaga kerahasiaan dan disiplin organisasi membuat infiltrasi intelijen menjadi sangat sulit dilakukan.

Analisis Nadav Eyal ini mengungkap sisi kerentanan sistem keamanan Israel yang selama ini dianggap sebagai salah satu yang paling maju di dunia. Kegagalan mengantisipasi serangan 7 Oktober 2023 menjadi bukti nyata dari keterbatasan sistem intelijen konvensional menghadapi organisasi bawah tanah yang tertutup.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas konflik Israel-Palestina yang tidak hanya bersifat militer tetapi juga melibatkan aspek intelijen dan psikologis. Kemampuan Hamas dalam membangun jaringan yang sulit ditembus menjadi faktor penentu dalam dinamika konflik selama ini.

Pengakuan dari analis Israel sendiri tentang kelemahan intelijen mereka memberikan perspektif baru dalam memahami akar penyebab konflik yang berkepanjangan. Faktor organisasi dan disiplin internal Hamas ternyata menjadi kekuatan yang mampu menandingi teknologi dan sumber daya intelijen Israel.

Keterputusan akses intelijen selama hampir dua puluh tahun ini menjelaskan mengapa Israel mengalami kejutan strategis dalam serangan besar-besaran Hamas. Lesson learned dari peristiwa ini kemungkinan akan mengubah pendekatan intelijen Israel ke depannya dalam menghadapi ancaman asimetris.

Dinamika kekuasaan di Gaza dari Mesir ke Israel kemudian ke Hamas mencerminkan kompleksitas politik kawasan Timur Tengah. Setiap perubahan kekuasaan membawa implikasi strategis yang berbeda bagi keamanan regional maupun internasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved