Repelita Jakarta - Perbedaan jenis dan nominal materai pada ijazah mantan Presiden Joko Widodo dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada tahun 1985 kembali menjadi sorotan publik yang mempertanyakan keaslian dokumen tersebut.
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia Dian Sandi Utama menegaskan bahwa ijazah tersebut tetap sah dan asli meskipun terdapat variasi penggunaan materai dibandingkan ijazah rekan seangkatan lainnya.
Menurut Dian Sandi Utama perbedaan administrasi tersebut tidak dapat dijadikan landasan kuat untuk meragukan keabsahan ijazah karena praktik pengelolaan dokumen akademik pada masa itu memiliki tingkat kelonggaran yang tinggi.
Ia menjelaskan bahwa fleksibilitas administrasi bukan hanya berlaku di Universitas Gadjah Mada melainkan juga di berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia pada periode tersebut.
Dian Sandi Utama menyatakan bahwa variasi nominal materai pada dokumen akademik era itu merupakan hal yang umum terjadi mulai dari nilai sangat kecil hingga penghilangan materai sepenuhnya.
Ia menyebutkan bahwa beberapa dokumen menggunakan materai bernilai dua puluh lima perak sebelum akhirnya praktik tanpa materai menjadi lazim di kalangan perguruan tinggi.
Dian Sandi Utama meminta masyarakat untuk menilai isu ini dengan menggunakan pendekatan historis yang tepat bukan dengan menerapkan standar administrasi kontemporer secara kaku.
Ia menekankan bahwa penguraian peristiwa masa lalu harus dilakukan melalui perspektif sejarah bukan dengan pendekatan emosional atau tuduhan berlebihan.
Sorotan muncul karena ijazah Joko Widodo menggunakan materai seratus rupiah berwarna hijau sementara sebagian alumni tahun 1985 menggunakan materai lima ratus rupiah atau bahkan tanpa materai sama sekali.
Ketua Angkatan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada tahun 1980 Mustoha Iskandar mengonfirmasi bahwa materai hijau tersebut digunakan secara seragam oleh seluruh lulusan seangkatannya pada tahun 1985.
Pernyataan serupa disampaikan Frono Jiwo teman seangkatan Joko Widodo yang masuk kuliah tahun 1980 dan wisuda bersama pada tahun 1985.
Frono Jiwo menyatakan bahwa format ijazahnya identik dengan ijazah Joko Widodo termasuk jenis huruf serta tanda tangan Rektor Prof T Jacob dan Dekan Prof Soenardi Prawirohatmodjo.
Ia menambahkan bahwa satu-satunya perbedaan terletak pada nomor kelulusan yang diterbitkan oleh universitas dan fakultas.
Frono Jiwo menjelaskan bahwa seluruh mahasiswa satu angkatan menyiapkan skripsi menggunakan mesin ketik mengingat komputer pada masa itu masih jarang digunakan.
Menurutnya sampul lembar pengesahan serta penjilidan skripsi hampir seluruhnya dikerjakan di percetakan pada periode tersebut.
Dian Sandi Utama menyampaikan pandangannya melalui akun X @DianSandiU pada Rabu 4 Februari 2026 dengan menegaskan penyampaian fakta bukan sikap ngotot dalam menanggapi isu tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

