Repelita Jakarta - Rocky Gerung Nilai Jokowi Alami Post Power Syndrome: Buzzer Perkeruh Situasi!
Repelita Jakarta - Pengamat politik Rocky Gerung menilai tekanan publik yang semakin intens telah memberikan dampak serius terhadap kondisi psikologis Presiden Joko Widodo di masa transisi kekuasaannya.
Menurutnya situasi politik terkini menunjukkan paradoks di mana legitimasi personal presiden tetap tinggi sementara kepercayaan terhadap institusi demokrasi justru mengalami pelemahan signifikan.
Kondisi itu menciptakan kegelisahan berkepanjangan yang belum terselesaikan secara mendalam dan terus menghantui mantan presiden tersebut.
Rocky menganalisis bahwa legitimasi pribadi yang kuat tanpa dukungan institusi yang solid berpotensi membahayakan kestabilan politik negara dalam jangka panjang.
Ia menekankan bahwa demokrasi yang sehat memerlukan ruang diskusi kritis bukan sekadar penguatan kultus individu.
“Kalau legitimasi personal 80 persen sementara legitimasi institusional cuma 20 persen itu bukan kabar baik Demokrasi yang sehat butuh percakapan kritis bukan kultus individu” ujarnya.
Ruang publik saat ini dinilai lebih didominasi oleh upaya public relation daripada pembentukan opini publik yang independen dan autentik.
Pemerintah dinilai lebih sibuk membangun citra ketimbang merespons suara kritis dari masyarakat secara substantif.
Akibatnya kredibilitas data ekonomi dan politik sering dipertanyakan oleh pelaku pasar global sehingga memicu reaksi negatif seperti penurunan indeks saham dan arus modal keluar.
Rocky menyoroti tekanan ekonomi riil yang dirasakan masyarakat melalui melemahnya daya beli kenaikan biaya hidup hingga kesulitan mahasiswa membayar sewa tempat tinggal.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai retak ekonomi yang sudah terlihat jelas bukan sekadar perlambatan biasa.
“ Ini bukan lagi crash tapi crack Retaknya sudah kelihatan” katanya.
Rocky juga menghubungkan tekanan politik dan ekonomi itu dengan gejala kesehatan yang tampak pada Presiden Jokowi belakangan ini.
Menurutnya faktor genetik atau pola makan tidak relevan sehingga penjelasan paling logis adalah stres berat yang berkepanjangan.
“Kalau faktor genetik dan makanan tidak masuk tinggal satu penjelasan stres” ujarnya.
Stres tersebut diyakini berasal dari situasi pasca kekuasaan serta berbagai tudingan politik yang terus mengikuti termasuk kekhawatiran akan masa depan politik keluarga.
Rocky menyebut fenomena ini sebagai post power syndrome yang umum dialami pemimpin setelah lama menjabat.
Upaya mempertahankan pengaruh melalui jalur politik keluarga justru dinilai memperpanjang rasa tidak tenang tersebut.
Ia menilai kesalahan terbesar adalah ketergantungan pada buzzer yang justru memperburuk keadaan.
“Kesalahan terbesar Jokowi adalah menyewa buzzer Mereka tidak punya kepentingan Jokowi sehat Kalau Jokowi tenang mereka kehilangan kerjaan” ucapnya.
Konsep restorative justice yang sempat diusung juga dinilai gagal meredakan ketegangan karena polarisasi semakin tajam dan isu terus bergulir tanpa akhir.
“Yang senang itu buzzer bukan presidennya” katanya.
Rocky menegaskan bahwa kondisi domestik Indonesia selalu dipantau ketat oleh kekuatan global khususnya pasar keuangan internasional yang peka terhadap gejala politik dan psikologi kekuasaan.
Ia menutup analisisnya dengan menekankan pentingnya mengembalikan peran kampus dan ruang akademik sebagai penghasil gagasan kritis alternatif.
Demokrasi hanya bisa diselamatkan jika kebebasan berpikir benar-benar terlindungi.
“Kebebasan berpikir itu sederhana kebebasan untuk mempersoalkan pikiran kekuasaan” tegasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

