Repelita Nusa Tenggara Timur - Pengamat politik Rocky Gerung menyoroti tragedi memilukan yang menimpa seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur, yang meninggal dunia akibat tekanan hidup dalam kondisi miskin.
Peristiwa ini terjadi karena sang anak tidak mampu memperoleh buku dan alat tulis yang dibutuhkan untuk sekolah, sementara ibunya menghadapi keterbatasan ekonomi yang sangat berat.
Rocky Gerung menilai kasus ini bukan sekadar masalah individu, melainkan gambaran kegagalan negara dalam menjamin hak-hak dasar anak dan memastikan keadilan sosial.
Ia menekankan bahwa buku tulis dan perlengkapan belajar adalah hak setiap anak, dan negara seharusnya hadir untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar tersebut.
Dalam perspektif Rocky, ironi besar muncul ketika narasi kebesaran bangsa dan prestasi internasional dipamerkan, tetapi kenyataan di akar rumput justru menyimpan penderitaan anak-anak yang tak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan dasar.
Anak tersebut meninggalkan sepucuk surat yang berisi permintaan maaf dan penghiburan untuk ibunya, menunjukkan kesadaran luar biasa terhadap beban hidup keluarga, termasuk lima saudara lainnya yang hidup dalam keterbatasan.
Rocky menekankan bahwa tragedi ini mencerminkan paradoks kebangsaan, di mana pertumbuhan ekonomi dan prestasi internasional tidak diikuti oleh solidaritas dan perlindungan terhadap warga paling lemah.
Ia menegaskan bahwa keputusan sang anak adalah refleksi rasionalitas tragis; ia berusaha mengurangi beban keluarganya dengan pilihan ekstrem demi kebaikan orang tua.
Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi elit politik, ekonomi, dan intelektual untuk kembali memastikan hak rakyat hidup bermartabat, di atas klaim statistik atau angka pertumbuhan.
Tragedi anak SD di NTT menjadi cermin nyata bahwa keberhasilan bangsa harus diukur dari empati dan perhatian negara kepada warganya yang paling rentan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

