
Repelita - Analisis politik terbaru menyatakan bahwa Partai Solidaritas Indonesia dianggap mustahil berkembang menjadi partai besar dalam peta perpolitikan nasional. Pernyataan ekstrem bahkan menyebutkan bahwa hal ini tidak akan tercapai meskipun partai tersebut dibantu oleh seribu dukun sekalipun.
Pandangan ini muncul dari evaluasi terhadap berbagai faktor pembatas yang dihadapi oleh partai tersebut dalam upaya ekspansi dan penguatan organisasi. Salah satu faktor utama adalah ketergantungan berlebihan pada figur mantan Presiden Joko Widodo yang saat ini sudah tidak lagi memegang kekuasaan eksekutif.
Pengalaman kepemimpinan internal partai juga menjadi sorotan. Jajaran pengurus Partai Solidaritas Indonesia dinilai masih didominasi oleh politisi pemula yang belum memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola organisasi politik berskala nasional. Hal ini dianggap sebagai kelemahan struktural yang sulit diatasi dalam waktu singkat.
Proses kaderisasi yang belum sistematis dan matang turut menjadi kendala dalam pembangunan partai yang berkelanjutan. Partai politik yang besar biasanya dibangun melalui proses regenerasi yang terencana dan berjangka panjang, bukan melalui penunjukan figur populer secara instan.
Sejarah perkembangan partai politik di Indonesia menunjukkan bahwa membangun partai besar memerlukan waktu puluhan tahun dan melalui berbagai dinamika politik yang kompleks. Contoh nyata dapat dilihat dari perjalanan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang memerlukan proses panjang sejak era Orde Baru hingga menjadi pemenang pemilu berturut-turut.
Contoh lain adalah Partai Gerindra yang didirikan tahun 2008 tetapi baru menjadi kekuatan signifikan pada pemilihan umum tahun 2024 setelah melalui berbagai penyesuaian strategi dan konsolidasi internal. Proses tersebut memerlukan waktu enam belas tahun dengan segala tantangan dan dinamikanya.
Persaingan dengan partai-partai mapan yang sudah memiliki basis massa kuat dan jaringan yang luas di seluruh Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi Partai Solidaritas Indonesia. Partai-partai tersebut tidak hanya memiliki struktur organisasi yang solid tetapi juga pengalaman bertahun-tahun dalam menghadapi berbagai dinamika politik.
Masyarakat pemilih saat ini juga semakin kritis dan rasional dalam menentukan pilihan politiknya. Popularitas figur tertentu tidak serta merta dapat dikonversi menjadi dukungan elektoral yang massif tanpa diiringi program kerja yang konkret dan relevan dengan kebutuhan riil masyarakat.
Isu kesehatan dan fokus pribadi mantan Presiden Joko Widodo juga disebut-sebut dapat mempengaruhi intensitas keterlibatannya dalam pengembangan partai. Padahal, membangun partai politik memerlukan komitmen dan energi penuh dari seluruh komponen, terutama dari figur sentralnya.
Transformasi menjadi partai besar memerlukan strategi jangka panjang yang komprehensif meliputi aspek kelembagaan, kaderisasi, finansial, dan ideologi. Partai perlu membangun identitas yang kuat dan berbeda dari partai lain untuk menarik dukungan konstituen yang loyal.
Tanpa perubahan strategis yang mendalam dan berkelanjutan, Partai Solidaritas Indonesia diperkirakan akan tetap menjadi partai kecil dalam beberapa pemilihan umum mendatang. Evaluasi internal dan penyesuaian strategi organisasi menjadi keharusan jika partai ingin meningkatkan daya saingnya.
Masa depan partai ini akan sangat tergantung pada kemampuan adaptasi dan inovasi dalam menjawab tantangan politik kontemporer serta merespons kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Proses pembelajaran dari sejarah perjalanan partai-partai besar di Indonesia dapat menjadi bahan refleksi yang berharga bagi pengembangan Partai Solidaritas Indonesia ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

