
Repelita Jakarta - Tim nasional futsal Indonesia berhasil mencapai final Piala Asia Futsal 2026 meski akhirnya harus mengakui keunggulan Iran dalam adu penalti.
Pertandingan final yang digelar di Indonesia Arena pada Sabtu, 7 Februari 2026, itu berakhir dengan skor 4-5 setelah melalui babak tendangan penalti.
Prestasi tersebut dianggap sebagai pencapaian yang sangat membanggakan mengingat perjalanan berat yang dilalui skuad Garuda Futsal.
Akun media sosial Extra Time Indonesia melalui platform X memberikan apresiasi atas pencapaian tim yang berhasil mengalahkan sejumlah negara dengan ranking lebih tinggi.
"Indonesia, ranking ke-24 FIFA, bisa menyingkirkan Vietnam ranking ke-20, JEPANG ranking ke-13, bahkan menahan imbang RAJA ASIA IRAN ranking ke-5 DUNIA," tulis akun @idextratime dalam sebuah cuitan.
Namun, di tengah euforia tersebut, muncul komentar kritis dari seorang netizen yang menyoroti kondisi ketenagakerjaan di tanah air.
Akun @azwarpahreza menulis, "seharusnya indonesia yg raja futsal asia, karna di indonesia lebih banyak lapangan futsal daripada lapangan kerja."
Komparasi yang dilontarkan netizen tersebut menyiratkan kritik mengenai ketersediaan lapangan kerja formal yang dinilai masih minim.
Pernyataan itu muncul meskipun pemerintah telah mengklaim penciptaan sejumlah besar lapangan kerja melalui berbagai program.
Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya mengumumkan target penciptaan satu juta lapangan kerja dari program Makmur Bangun Gotong Royong.
Komentar satir dari netizen tersebut menunjukkan bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi perhatian publik yang sensitif.
Pencapaian di bidang olahraga seperti futsal seringkali dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi yang sedang berlangsung di masyarakat.
Final Piala Asia Futsal 2026 telah mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia sebagai tuan rumah yang mampu mencapai partai puncak.
Kekalahan dari Iran yang merupakan raja futsal Asia tidak mengurungkan kebanggaan atas perjuangan tim selama turnamen.
Respons netizen yang mengaitkan prestasi olahraga dengan kondisi lapangan kerja mencerminkan dinamika percakapan publik di media sosial.
Diskusi semacam ini menunjukkan bagaimana isu-isu nasional saling terhubung dalam persepsi masyarakat luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

