Repelita Jakarta - Analis politik Agus Wahid menilai dinamika politik nasional setelah satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran masih diwarnai persoalan sosial ekonomi dan hukum yang cukup berat.
Menurutnya Indonesia belum benar-benar keluar dari krisis multidimensi yang terus membelit berbagai aspek kehidupan berbangsa.
Di tengah kondisi tersebut justru muncul manuver politik yang mengarah pada upaya mempertahankan pengaruh kekuasaan keluarga mantan Presiden Joko Widodo melalui kendaraan politik baru.
Agus menyatakan bahwa ada dorongan kuat untuk mempercepat kontestasi politik nasional seolah-olah pemilu lima tahunan ingin dimajukan waktunya.
Ia menyebut gerakan tersebut terlihat sangat jelas melalui langkah-langkah masif dan terbuka dari kelompok tertentu yang semakin agresif.
Salah satu indikator yang disebutnya adalah perubahan logo Partai Solidaritas Indonesia dari bunga menjadi gambar gajah yang diyakini mengandung makna ambisi untuk segera membesar dan mendominasi.
Agus menilai perubahan tersebut bukan sekadar simbol estetika melainkan filosofi kekuasaan yang ingin menginjak lawan politik yang dianggap menghalangi.
Ia juga menyoroti pernyataan elite PSI yang mengklaim Jawa Tengah sebagai basis utama partai serta ambisi serupa yang disampaikan di Sulawesi Selatan.
Menurut Agus Ketua Umum PSI yang baru bergabung dengan proses cepat telah menyatakan keinginan menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang politik utama.
Dalam rapat kerja nasional di Makassar pimpinan PSI kembali menegaskan tekad menjadikan Sulawesi Selatan sebagai basis kekuatan berikutnya.
Agus menekankan bahwa ambisi PSI tidak terlepas dari peran aktif mantan Presiden Jokowi yang menyatakan kesiapan mengunjungi seluruh kabupaten kota bahkan hingga tingkat kecamatan demi membesarkan partai tersebut.
Pernyataan Jokowi tersebut menurutnya disambut respons sinis dari warganet yang menunjukkan keresahan publik terhadap kondisi kesehatan dan aktivitas politiknya.
Agus menilai Jokowi belum sepenuhnya rela melepaskan kekuasaan sesuai batas konstitusi yang berakhir pada 1 Oktober 2024.
Ia mempertanyakan arah ambisi politik keluarga tersebut apakah untuk mengantarkan Gibran sebagai Presiden RI ke-9 sekaligus menempatkan adiknya sebagai penguasa baru di parlemen.
Agus juga tidak menutup kemungkinan skenario tersebut membuka jalan bagi kembalinya Jokowi ke Istana dalam posisi tertentu.
Menurutnya tidak mustahil terjadi pasangan anak-bapak dalam kontestasi politik nasional mendatang sebagai bagian dari ambisi dinasti Solo.
Agus menilai kinerja Gibran sejauh ini belum menunjukkan kapasitas kepemimpinan nasional yang memadai dan masih berada pada standar mental yang dianggap belum matang.
Ia juga menyampaikan kritik tajam terhadap rekam jejak Jokowi selama satu dekade berkuasa yang dinilai koruptif di berbagai lini serta penuh manipulasi menuju kekuasaan terutama pada Pilpres 2019.
Agus menyebut Indonesia kini berada pada titik terendah dalam ekonomi hukum dan etika bernegara disertai praktik fitnah serta adu domba yang sistematis.
Ia menyoroti isu dua periode Prabowo-Gibran yang terus didorong oleh kelompok pendukung setia Jokowi meskipun menurutnya Prabowo justru merasa terganggu dengan narasi tersebut.
Agus memperingatkan bahaya besar jika politik manipulatif kembali terjadi termasuk intimidasi oleh kekuatan bersenjata penyalahgunaan fasilitas negara hingga manipulasi suara dari TPS hingga MK.
Menurutnya pesta demokrasi berisiko hanya menjadi formalitas karena pemenang sudah dapat diketahui sebelum pemungutan suara dilaksanakan.
Agus menyerukan penegakan hukum administrasi kepemiluan secara tegas termasuk menuntaskan kejelasan status ijazah Gibran hingga tuntas.
Ia juga menyinggung pentingnya mengusut dugaan ketidakjelasan ijazah Jokowi serta menjaga integritas lembaga peradilan.
Agus menegaskan bahwa sebagai warga negara boleh taat hukum namun berhak tidak mempercayai sistem yang belum menunjukkan integritas penuh.
Ia memandang Pilpres 2029 sebagai momentum krusial untuk menyelamatkan bangsa sehingga rakyat harus jauh lebih revolusioner dalam menyikapi kontestasi tersebut.
Agus menyebut sejumlah tokoh nasional layak dipersiapkan seperti Anies Baswedan Purbaya Yudhi Sadewa Agus Harimurti Yudhoyono Basuki Cahya Purnama Yusril Ihza Mahendra Mahfud MD Dedy Mulyadi Puan Maharani serta wakil dari keluarga Cendana.
Ia juga membuka kemungkinan munculnya figur baru yang belum pernah tampil ke permukaan sebagai satria piningit yang bisa menjadi harapan baru bangsa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

