
Repelita Jakarta - Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai belum merespons tantangan debat terbuka dari Guru Besar Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar hingga kini.
Tawaran panggung diskusi telah disampaikan oleh program Rosi di Kompas TV melalui jurnalis senior Rosianna Silalahi namun belum ada kepastian dari Pigai.
Politikus PDI Perjuangan Ferdinand Hutahaean langsung mengomentari situasi itu dengan menyebut sikap Pigai bukan hal yang baru.
“Pigai ini kan memang tergolong seseorang yang selalu menghindar dari debat,” ujar Ferdinand pada Jumat 27 Februari 2026.
Ferdinand mengungkit pengalaman pribadinya ketika diundang bersama Pigai dalam podcast Akbar Faizal Uncensored beberapa waktu lalu.
Menurutnya Pigai sempat setuju hadir namun memilih meninggalkan acara setelah mengetahui Ferdinand menjadi lawan diskusinya.
“Dulu Akbar Faizal itu mengundang saya dan Pigai di podcastnya beliau," Ferdinand menuturkan.
"Tapi begitu Pigai tau bahwa saya sparing partner debatnya di sana, akhirnya dia tidak mau melanjutkan diskusi dan memilih pulang,” tambahnya.
Ia menyatakan tidak terkejut jika Pigai kini kembali dianggap menghindari adu argumen dengan pihak yang dianggap cerdas.
“Jadi saya tidak kaget kalau Pigai lari-lari cantik menghindari siapapun yang dia pikir orang cerdas yang akan mendebat dia. Makanya dia tidak mau,” tegasnya.
Ferdinand juga mengkritik gaya komunikasi Pigai yang lebih sering menyampaikan klaim daripada berdebat secara langsung.
“Jadi Pigai ini hanya seorang yang selalu tampil di depan mic mengklaim dirinya mengerti, tahu, dan paling paham HAM. Padahal kalau diajak debat dia sebetulnya takut,” ucap Ferdinand.
Ia mempertanyakan kinerja Pigai sebagai Menteri HAM karena belum terlihat kontribusi nyata dalam bentuk regulasi.
“Dan dia saya lihat tidak mengerti tupoksinya sebagai seorang Menteri HAM. Harusnya dia melahirkan regulasi tentang penegakan HAM di negara ini. Itu baru benar,” terangnya.
Ferdinand mengaku hingga kini belum mendengar adanya aturan atau ketentuan baru dari Kementerian HAM terkait isu hak asasi manusia di Indonesia.
“Sampai sekarang saya tidak pernah mendengar Natalius Pigai itu mengeluarkan sebuah ketentuan atau aturan dari Kementerian HAM terkait HAM di Indonesia,” lanjutnya.
Ia menyimpulkan bahwa Pigai cenderung merasa paling mampu namun menghindar ketika berhadapan dengan lawan debat yang tangguh.
“Jadi memang ya lh begitulah Pigai, dia hanya seorang yang merasa dirinya mampu, bisa, tapi ketika bertemu dengan orang-orang yang dianggap cerdas berdebat, dia akan kabur dan tidak siap,” kuncinya.
Sebelumnya dokter gigi sekaligus pegiat media sosial drg Hanum Salsabiela juga menuding Pigai menghindar dari tantangan debat yang semula ia ajukan sendiri.
“Dari sini saja sudah keliatan mana yang jantan ber-HAM atau meleyot duluan,” ujar Hanum melalui cuitannya di X pada 27 Februari 2026.
Hanum menilai respons Pigai berpindah-pindah platform tanpa jawaban tegas.
“Status di FB, dibalasnya ga berani di FB tapi melipir di X. Dikejar di X, malah lari ke TV,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa ketika wacana debat di televisi mulai difasilitasi respons yang ditunggu tidak kunjung muncul.
“Dijabanin TV, sampe sekarang nggak dijawab-jawab malah bikin status sok nge HAM menjenguk korban,” cetusnya.
Hanum mengibaratkan situasi itu seperti transaksi yang tidak konsisten.
“Yaa istilahnya loe jual gue beli, tapi terus jualannya diumpetin ganti jualan lain,” sindirnya.
Hanum juga mengutip pemikiran Imam Ghazali untuk menggambarkan sikap yang dinilainya berputar-putar.
“Satu lagi mungkin tambahan kategori dari Imam Ghazali, Orang yang tidak tahu, tidak tahu kalau dia tidak tahu," Hanum menuturkan.
'Dikasih tahu nggak mau tahu, maunya kasih tahu kalau dia tahu… yah mbulet dewe tho,” tandasnya.
Zainal Arifin Mochtar atau Uceng menyebutkan bahwa Rosianna Silalahi telah menawarkan tempat dan waktu di acara Rosi.
“Baru aja dicolek mbak Rosianna, katanya dia sediakan tempat dan waktu di acara Rosi. Gimana Pak Natalius Pigai?," ucap Zainal melalui akun X-nya.
Hingga kini publik masih menunggu kepastian apakah debat terbuka itu akan benar-benar terlaksana di televisi nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

