
Repelita Jakarta - Kasus bunuh diri yang menimpa anak-anak menjadi pengingat pahit bahwa kita semua turut bertanggung jawab atas kegagalan melindungi generasi muda.
Pemerintah pusat daerah orang tua keluarga tokoh agama guru sekolah teman serta seluruh lapisan masyarakat memiliki andil dalam situasi ini.
Sekolah seharusnya menjadi tempat teraman kedua bagi anak setelah rumah bahkan ketika rumah justru menjadi sumber penderitaan.
Di sekolah anak-anak yang tertekan di lingkungan asalnya dapat menemukan harapan melalui perhatian teman dan kehadiran guru yang ramah serta mau mendengarkan.
Lingkungan sekolah yang ideal membangun kepekaan kasih sayang dan solidaritas seperti ketika satu kelas rela mengumpulkan dana untuk membelikan sepatu bagi teman yang kekurangan.
Bagi anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem atau lingkungan yang tidak mendukung sekolah menjadi satu-satunya alasan kuat untuk tetap bersemangat menjalani hari.
Mereka menantikan esok hanya karena ingin bertemu guru serta teman-teman yang selalu dirindukan sehingga sekolah menyiratkan pesan tersembunyi bahwa hidup harus dipertahankan.
Pendidikan negara wajib menghadirkan iklim seperti itu agar anak-anak Indonesia merasa aman dan berharga.
Guru berkualitas yang benar-benar bercita-cita menjadi pendidik menjadi prasyarat utama dalam mewujudkan sekolah sebagai ruang penyelamat.
Guru tersebut harus menguasai ilmu pengetahuan pedagogi kemampuan sosio-emosional serta memiliki kepribadian yang mulia dan peka terhadap akar kekerasan.
Kesejahteraan dan jenjang karir guru harus dijamin negara agar mereka dapat fokus memberikan yang terbaik bagi murid.
Banyak guru tetap memberikan perhatian penuh meski hidup dalam keterbatasan bahkan sering mengeluarkan uang pribadi untuk membeli alat tulis jajan atau buku bagi murid yang membutuhkan.
Pengorbanan itu seharusnya dihitung sebagai kontribusi besar yang layak dibalas negara namun kenyataannya masih diabaikan.
Guru yang digaji tidak layak pada dasarnya sedang mensubsidi negara sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk terus membantu murid secara materi maupun emosional.
Ketika orang tua dan guru sama-sama tidak mampu lagi memberikan dukungan maka negara harus segera hadir mengisi kekosongan tersebut.
Sekolah yang hangat membuat anak yang menderita di rumah justru betah berada di lingkungan sekolah bahkan menangis ketika gurunya dimutasi.
Anak-anak tersebut rela mengikuti segala kegiatan sekolah demi bisa tinggal lebih lama di tempat yang memberi kebahagiaan.
Pemerintah harus membangun sekolah semacam itu meski dengan biaya sebesar apa pun karena itu adalah investasi untuk menyelamatkan nyawa anak.
Konstitusi mengamanatkan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen tanpa batas maksimal demi terwujudnya tujuan mulia tersebut.
Iklim sekolah yang mendukung membuat anak rela menahan lapar demi kebahagiaan yang lebih besar dari sekadar naluri makan.
Semangat itu muncul karena mereka tidak sabar menanti tugas kreatif dari guru serta bertemu teman di lingkungan yang penuh dukungan.
Sekolah yang nyaman dengan buku lengkap dan alat tulis memadai mampu mengangkat derajat hidup anak melebihi kekurangan yang mereka alami di rumah.
Program makan bergizi gratis menjadi tidak bermakna ketika fasilitas belajar rusak dan orang tua tidak mampu menyediakan kebutuhan dasar pendidikan.
Bagi anak yang semangat hidupnya tumbuh saat berangkat ke sekolah mereka lebih memilih bertahan demi belajar daripada makan.
Ketiadaan guru dan sekolah yang memberikan ruang aman menjadi salah satu penyebab anak kehilangan harapan dan akhirnya menyerah pada keputusasaan.
Teknologi seperti smartboard tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru sebagai pendengar pemberi nasihat dan penyulut semangat hidup.
Anak yang menderita membutuhkan guru yang menjadi sandaran tempat mereka mendapatkan kekuatan untuk terus bertahan karena esok masih ada sekolah dan matahari masih terbit.
Melalui guru itulah anak menyadari bahwa hidupnya berharga dan negara yang menaunginya juga layak diperjuangkan.
Kondisi saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya sehingga menimbulkan rasa sesak di dada bagi siapa saja yang peduli pada masa depan anak bangsa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

