
Repelita Jakarta - Video viral yang menampilkan Anies Baswedan diduga dikuntit petugas intelijen saat berkunjung ke Karanganyar Jawa Tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Peristiwa tersebut terjadi pada 31 Januari 2026 ketika Anies sedang melakukan kunjungan sekaligus meresmikan jembatan di wilayah tersebut.
Dalam rekaman yang beredar Anies terlihat santai mendekati para petugas yang disebut-sebut mengawasi secara diam-diam lalu mengajak mereka berfoto bersama.
Anies mengucapkan kalimat yang kemudian ramai dikutip yaitu daripada sembunyi-sembunyi toh kita enakan foto bareng Mas ayo bareng-bareng oh yang tugas malah enggak difoto.
Interaksi tersebut menunjukkan sikap terbuka dan tenang dari Anies dalam menghadapi situasi pengawalan yang tidak diumumkan sebelumnya.
Beberapa petugas yang diajak berbincang mengaku berasal dari Kodim Karanganyar dan Korem 074 Warastratama yang bermarkas di Surakarta.
Korem 074 Warastratama membawahi sejumlah Kodim di wilayah Solo Raya termasuk Karanganyar Sukoharjo Klaten Sragen Boyolali Wonogiri dan Surakarta.
Video tersebut tidak muncul di akun media sosial resmi Anies Baswedan yang justru lebih menonjolkan kegiatan peresmian jembatan.
Kunjungan ke Karanganyar merupakan bagian dari program Titian Bersama yang diinisiasi melalui organisasi Aksi Bersama.
Program ini bertujuan membangun serta memperbaiki jembatan di daerah terisolasi guna memperlancar akses pendidikan ekonomi dan layanan kesehatan masyarakat.
Aksi Bersama sendiri merupakan organisasi yang digagas Anies Baswedan dengan visi membentuk masyarakat yang lebih inklusif adil dan berdaya.
Meski kejadian berlangsung akhir Januari video tersebut kembali menyebar luas belakangan ini dan memicu berbagai tanggapan dari warganet.
Sebagian besar respons publik menilai sikap Anies terlihat dewasa tidak reaktif dan mampu mengubah situasi tegang menjadi momen yang ringan.
Jurnalis senior Hersubeno Arief menyebut peristiwa ini menarik karena mampu mengubah kejadian lokal menjadi narasi nasional lewat kekuatan media sosial.
Di tengah suasana politik yang masih terpolarisasi momen semacam ini dengan cepat membentuk opini dan diskusi di ruang publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

