
Repelita Jakarta - Rencana pengadaan mobil dinas untuk Gubernur Kalimantan Timur dengan nilai mencapai Rp8,5 miliar menuai kecaman keras dari berbagai kalangan di tengah kondisi kemiskinan yang masih merata serta arahan efisiensi anggaran dari Presiden Prabowo Subianto.
Konten kreator Guru Gembul melalui kanal YouTube miliknya menyatakan keterkejutannya atas informasi tersebut dan langsung mengkritik kebijakan yang dianggap tidak peka terhadap realitas sosial masyarakat setempat.
“Saya menjadi kaget ketika menemukan berita bahwa di Kalimantan Timur ada seorang gubernur yang bersiap mendapatkan mobil dinas seharga 8,5 miliar,” ujar Guru Gembul dalam ulasannya.
Ia mempertanyakan bagaimana anggaran sebesar itu bisa disetujui oleh DPRD provinsi serta pihak-pihak terkait lainnya di daerah.
Menurutnya setiap pengadaan barang milik daerah wajib mematuhi prinsip efisiensi penggunaan anggaran serta akuntabilitas yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Guru Gembul juga menyoroti berbagai alasan yang dikemukakan untuk membenarkan pembelian kendaraan mewah tersebut salah satunya terkait citra daerah yang disebut sebagai etalase Indonesia.
Ia menirukan pernyataan yang beredar bahwa Kalimantan Timur sebagai etalase Indonesia tidak layak jika gubernurnya menggunakan kendaraan biasa.
“Ingat, Kalimantan Timur ini etalase Indonesia. Jangan saya disuruh pakai Kijang,” katanya menirukan argumen tersebut.
Alasan lain seperti marwah daerah serta kondisi jalan yang rusak juga dikritiknya karena dianggap tidak relevan dengan prioritas utama pemerintahan.
Guru Gembul menegaskan bahwa marwah sejati sebuah daerah tercermin dari tingkat kesejahteraan rakyat serta integritas kepemimpinan yang menjalankan amanah dengan benar.
“Kalau rakyatnya masih miskin dan kelaparan, semewah apa pun mobil dinasnya, marwahnya tidak akan naik,” tegasnya.
Ia mengibaratkan pola pikir semacam itu mirip dengan pernyataan Raja Louis XIV dari Prancis yang mengatakan negara adalah saya sehingga citra pemimpin dianggap identik dengan citra negara secara keseluruhan.
Bila alasan utama adalah kondisi infrastruktur jalan yang buruk maka langkah yang paling tepat adalah memperbaiki jalan tersebut bukan menyesuaikan kendaraan agar sesuai dengan kondisi jalan yang rusak.
Guru Gembul menyatakan keheranannya mengapa masyarakat Kalimantan Timur menerima pemimpin dengan pola pikir seperti itu.
“Saya benar-benar heran kenapa orang Kalimantan Timur mau mendapatkan pemimpin seperti ini. Dari alam pikirannya saja, kalau benar pernyataan itu berasal dari ide dan gagasannya sendiri itu kacau luar biasa, baraya,” tuturnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

