Repelita Jakarta - Dokter Tifa memberikan tanggapan kontroversial terhadap penjelasan Tompi yang menyebut kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai ptosis.
Menurut Dokter Tifa, lebih baik disebut mengantuk daripada ptosis karena istilah medis tersebut memiliki kaitan serius dengan masalah kesehatan mental serta penggunaan zat terlarang.
Ia merujuk pada prinsip Evidence Based Medicine yang menjadi acuan dokter global.
Bukti ilmiah menunjukkan ptosis sering berhubungan dengan gangguan mental seperti depresi, bipolar, skizofrenia, serta konsumsi psikotropika atau narkoba.
Penelitian melibatkan lebih dari empat ribu subjek sehingga hasilnya dianggap sangat kuat dan sulit dibantah.
Dokter Tifa mempertanyakan apakah Gibran lebih nyaman disebut mengantuk seperti dalam materi Pandji Pragiwaksono atau ptosis seperti dijelaskan Tompi.
Pernyataan ini disampaikan pada 8 Januari 2026 dengan menyertakan cuplikan jurnal penelitian dari Amerika Serikat.
Jurnal tersebut berjudul "Hubungan Ptosis dengan Kondisi Kesehatan Mental pada Orang Dewasa dari Basis Data Penelitian Besar di Amerika Serikat" karya Jaffer Shah dkk tahun 2025.
Dokter gigi Hanum Salsabiela juga ikut mengomentari dengan mencari artikel ilmiah di Google Scholar.
Ia menemukan publikasi jurnal akademik yang menyatakan ptosis bisa sangat terkait dengan penggunaan narkoba suntik, terutama heroin.
Hanum menyatakan hanya ingin mengajak masyarakat belajar agar tidak mudah menerima diagnosa tanpa verifikasi.
Ia menyarankan untuk tidak sembarangan percaya pada kalimat dokter, terutama yang sering berada di lingkungan kekuasaan daripada praktik medis.
Komentar Hanum disertai contoh artikel dari Taylor and Francis serta Annals of Saudi Medicine yang membahas ptosis pada pengguna narkoba suntik.
Polemik ini bermula dari kritik Tompi terhadap materi stand-up comedy Mens Rea yang menyindir mata Gibran terlihat mengantuk.
Tompi menegaskan bahwa ptosis adalah kondisi anatomis bawaan, fungsional, atau medis yang tidak pantas dijadikan bahan lelucon.
Ia mengajak publik mengkritik kebijakan serta tindakan pejabat, bukan ciri fisik pribadi.
Tanggapan dari Dokter Tifa serta Hanum menambah panas perdebatan dengan membawa dimensi bukti ilmiah serta sindiran terhadap kredibilitas penjelasan medis.
Diskusi ini semakin menyoroti sensitivitas masyarakat terhadap isu kesehatan mental, penyalahgunaan zat, serta batas kritik terhadap figur publik.
Kontroversi ptosis dalam konteks Gibran menjadi salah satu topik hangat yang memicu polarisasi opini di media sosial.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

