Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

[MENOHOK] Hanum Salsabiela: Jangan Asal Percaya Kalimat Dokter, Apalagi yang Keluar Masuk Istana

 

Repelita Jakarta - Dokter gigi Hanum Salsabiela Rais memberikan komentar pedas terkait penjelasan medis yang disampaikan Tompi mengenai kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Hanum menyarankan masyarakat untuk tidak langsung percaya begitu saja pada pernyataan dokter tanpa verifikasi lebih lanjut.

Ia menekankan pentingnya sikap kritis di era informasi saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun X @hanumrais pada 8 Januari 2026.

Hanum merujuk pada artikel jurnal ilmiah terindeks Scopus Q1 berjudul "PTOSIS in an IV drug User" yang diterbitkan oleh Taylor and Francis.

Referensi tersebut digunakan untuk memperkuat argumen bahwa istilah ptosis memiliki konteks klinis spesifik.

Menurut Hanum, publik tidak boleh mudah menerima narasi medis tanpa memeriksa sumber dan latar belakangnya.

Ia secara khusus menyindir dokter yang lebih sering terlihat di lingkungan kekuasaan daripada di tempat praktik kesehatan.

"Tidak ngasal percaya, sama rezim kalimat yang dikeluarkan oleh dokter. Apalagi dokter yang keluar masuk istana bukan keluar masuk rumah sakit," tulis Hanum.

Komentar ini merespons kritik Tompi terhadap materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyindir mata Gibran terlihat seperti mengantuk.

Tompi pada 7 Januari 2026 menyatakan bahwa guyonan tersebut telah menyentuh ranah perendahan fisik yang tidak pantas.

Ia menjelaskan bahwa kondisi yang tampak sebagai mata mengantuk sebenarnya disebut ptosis dalam istilah medis.

Ptosis merupakan kelainan anatomis pada kelopak mata yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau terkait masalah kesehatan tertentu.

Tompi menegaskan bahwa menjadikan hal tersebut sebagai bahan lelucon bukanlah kritik cerdas melainkan bentuk kemalasan berpikir.

Ia mengajak publik untuk mengarahkan humor atau satire pada kebijakan serta tindakan pejabat, bukan pada ciri fisik yang tidak dapat diubah.

Tompi juga menyerukan peningkatan standar diskusi publik agar lebih menghormati martabat manusia.

Tanggapan Hanum dengan nada sindiran langsung menjadi sorotan karena mempertanyakan kredibilitas penjelasan medis dari figur yang dekat dengan kekuasaan.

Polemik ini semakin memperkaya perdebatan mengenai batas antara diagnosa medis, kritik politik, serta kebebasan berekspresi di ruang publik.

Diskusi di media sosial terus berlanjut dengan argumen dari berbagai perspektif terkait etika profesi medis dan konteks politik.

Isu ini menambah kompleksitas dalam rangkaian kontroversi seputar pertunjukan Mens Rea yang sering menyentuh topik sensitif.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved