
Repelita Jakarta - Januari 2026 menjadi bulan yang kelam bagi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis pemerintah.
Ribuan orang, sebagian besar adalah pelajar, menjadi korban keracunan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Data yang terkumpul dari berbagai sumber menyebutkan jumlah korban mendekati 1.929 orang dalam kurun waktu 30 hari di bulan pertama tahun ini.
Kasus-kasus ini tersebar luas di berbagai provinsi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Banten, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat dalam dua pekan pertama Januari saja sudah terdapat 1.242 korban keracunan.
Insiden terbaru terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (30/1) dengan 132 pelajar menjadi korban.
Dua hari sebelumnya, di Kudus, Jawa Tengah, 118 siswa SMA Negeri 2 mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan MBG.
Sebanyak 46 pelajar di Kudus harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat kondisi yang cukup serius.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Purwosari Kudus, Nasihul Umam, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut.
Ia menegaskan pihaknya akan bertanggung jawab penuh terhadap kejadian yang menimpa para pelajar tersebut.
Dinas Kesehatan Kudus segera merespons dengan mendatangi dapur penyuplai makanan untuk mengambil sampel bahan.
Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui penyebab keracunan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Mustiko Wibowo, mengumumkan penghentian sementara operasional SPPG Purwosari.
Penghentian ini dilakukan sembari menunggu hasil investigasi yang komprehensif untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Rentetan insiden keracunan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai sistem pengawasan keamanan pangan dalam program MBG.
Program yang memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan gizi anak sekolah ini kini menghadapi ujian kepercayaan dari masyarakat.
Publik menantikan langkah konkret dan perbaikan sistematis dari pihak berwenang untuk menjamin keamanan program ini ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

