Repelita Washington - Pernyataan lama Fiona Hill, mantan penasihat senior Gedung Putih bidang Rusia dan Eropa, kembali mencuri perhatian setelah operasi militer Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026.
Dalam kesaksiannya di depan Kongres pada 2019, Hill mengungkap bahwa pejabat Rusia pernah menyampaikan sinyal informal kepada Amerika Serikat.
Kremlin disebut bersedia mengurangi dukungan terhadap Maduro asalkan Washington memberikan ruang bebas bagi Rusia untuk bergerak di Ukraina.
Hill menyebut ide tersebut sebagai "pengaturan tukar yang sangat aneh antara Venezuela dan Ukraina".
Sinyal itu disampaikan melalui artikel media Rusia yang merujuk pada Doktrin Monroe, prinsip abad ke-19 yang menolak intervensi Eropa di Amerika serta menjanjikan non-intervensi Amerika di Eropa.
Doktrin serupa kemudian digunakan Presiden Donald Trump untuk membenarkan tindakan di Venezuela.
Meski tidak pernah ada tawaran resmi, Duta Besar Rusia saat itu Anatoly Antonov berulang kali memberikan isyarat kepada Hill.
Rusia siap membiarkan Amerika bertindak leluasa di Venezuela jika Amerika melakukan hal sama terhadap Rusia di kawasan Eropa.
“Sebelum ada 'isyarat-isyarat, dorongan-dorongan, kedipan-kedipan, bagaimana kalau kita berbuat kesepakatan?' Tetapi tidak ada yang tertarik saat itu,” kata Hill kepada The Associated Press pada 7 Januari 2026.
Pada April 2019, Trump mengutus Hill ke Moskow untuk menyampaikan pesan tegas bahwa Ukraina dan Venezuela tidak saling terkait.
Saat itu, Amerika Serikat bersama sekutu mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.
Namun tujuh tahun berselang, situasi geopolitik berubah drastis setelah penggulingan Maduro melalui operasi militer Amerika.
Trump menyatakan niat mengelola urusan Venezuela serta memperbarui ancaman terhadap wilayah lain seperti Greenland dan Kolombia.
Menurut Hill, Kremlin kemungkinan menyambut baik konsep pengaruh dominan negara besar karena membenarkan prinsip kekuatan menentukan segalanya.
Tindakan Trump di Venezuela dinilai menyulitkan sekutu Ukraina untuk terus mengkritik ambisi Rusia di sana sebagai tindakan tidak sah.
"Karena kita baru saja mengalami situasi di mana AS mengambil alih, atau setidaknya menghancurkan pemerintahan negara lain, menggunakan fiksi," ujarnya.
Pemerintahan Trump tetap menggambarkan operasi tersebut sebagai penegakan hukum semata.
Kementerian Luar Negeri Rusia belum memberikan respons atas komentar terbaru Hill.
Editor: 91224 R-ID Elok

