Repelita Jakarta - Seorang pengguna media sosial bernama Amna Fareeha Noor mengunggah kritik tajam terhadap standar etika yang diterapkan secara selektif oleh pendukung tertentu dalam politik Indonesia.
Ia mempertanyakan konsistensi pembicaraan tentang etika setelah sebelumnya banyak yang diam atas perilaku kandidat di masa lalu.
Amna Fareeha Noor menyoroti sikap Gibran Rakabuming Raka saat debat calon presiden ketika berinteraksi dengan Mahfud MD.
Gerakan kepala yang mondar-mandir dianggap mirip karakter dalam drama klasik dan tidak pantas untuk forum formal tingkat nasional.
Ucapan Gibran yang menyatakan sedang mencari jawaban dari Mahfud namun tidak menemukannya dinilai kurang menghormati lawan debat.
Perilaku Prabowo Subianto di debat capres sebelumnya juga disinggung dengan gestur menjulurkan lidah yang dianggap kekanak-kanakan.
Kelakuan tersebut terjadi di acara resmi negara bukan panggung hiburan komedi.
Anehnya para pendukung justru merasa bangga dan menormalisasi sikap tersebut tanpa protes berarti.
Saat itu kritik etika jarang terdengar dari kelompok yang sama.
Kini ketika membahas etika terhadap pihak lain, mereka tampak bersikap seolah paling menjunjung sopan santun.

Amna Fareeha Noor menyebut fenomena ini sebagai hal yang lucu sekaligus ironis.
Standar etika seharusnya diterapkan secara adil tanpa pilih kasih tergantung figur yang didukung.
Perdebatan etika dalam politik sering kali menjadi alat selektif untuk menyerang lawan.
Kasus ini mencerminkan inkonsistensi yang kerap muncul di ranah publik tanah air.
Unggahan tersebut memicu berbagai respons dari pengguna lain yang setuju maupun membela.
Diskusi etika politik kembali hangat di tengah dinamika pasca pemilu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

