
Repelita Morowali - Penangkapan jurnalis advokasi Royman M Hamid oleh aparat Polres Morowali pada Minggu 4 Januari 2026 berlangsung dengan cara yang dinilai sangat berlebihan, seolah sedang mengejar pelaku kejahatan berat.
Proses tersebut memicu kepanikan warga Desa Torete karena disertai tembakan beruntun serta penodongan senjata kepada masyarakat sipil.
Banyak pihak menilai tindakan personel kepolisian tidak proporsional terhadap seorang wartawan yang selama ini aktif menyuarakan isu lingkungan dan hak masyarakat di kawasan tambang.
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu langsung bereaksi melalui akun X miliknya pada Selasa 6 Januari 2026.
Fakta bahwa negara tidak ada lagi di Morowali - yang berkuasa adalah oligarki tulis Said Didu dalam unggahan yang disertai video dramatis proses penangkapan tersebut.
Unggahan itu mendapat perhatian luas dan memicu berbagai tanggapan dari warganet.
Dikira nkri dibawah kekuasaan jendral prabowo akan jauh lebih baik dri era jkw krna jelas bbit bbet bbotnya ternyata udah ketularan banyak kelakuan jkwbyg tdk terpuji sama sekali smga aja nkri tidak bubar sebagaimna pernah dikatakn Prabowo komentar salah seorang pengguna.
MOROWALI SUDAH DIJUAL PD CINA DAN OLIGHARKI OLEH JOKOWI LUHUT..SEMOGA ALLAH SEGERAKAN AZABBNYA balas warganet lain dengan nada keras.
Negara dalam negara lagi bang? tanya pengguna lainnya.
Penangkapan Royman terjadi saat polisi mendatangi rumah keluarga aktivis lingkungan Arlan Dahrin yang sebelumnya telah ditangkap terkait dugaan pembakaran kantor perusahaan tambang.
Aksi aparat dipimpin langsung Kasatreskrim dengan dukungan personel bersenjata lengkap serta beberapa individu berpakaian preman.
Video yang beredar memperlihatkan Royman dicekik leher dan digelandang paksa setelah meminta untuk melihat surat perintah penangkapan.
Permintaannya untuk mendokumentasikan dokumen resmi itu tidak digubris oleh petugas di lapangan.
Polisi berdalih bahwa prosedur telah dijalankan sesuai aturan dan penangkapan murni terkait kasus pidana, bukan karena aktivitas jurnalistik Royman.
Namun, cara penangkapan yang represif ini dinilai mencerminkan upaya pembungkaman terhadap suara kritis di wilayah yang dikuasai kepentingan tambang besar.
Kritik Said Didu semakin menegaskan bahwa di Morowali, kekuasaan negara seolah telah digantikan oleh dominasi oligarki yang melindungi investasi tambang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

