Repelita Jakarta - Polemik seputar materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam tayangan Mens Rea di Netflix terus memicu perdebatan di kalangan warganet hingga awal Januari 2026.
Pandji dalam salah satu segmennya menyindir mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang sering terlihat seperti sedang mengantuk.
Guyonan tersebut langsung mendapat respons keras dari dokter bedah plastik sekaligus penyanyi Tompi.
Tompi menegaskan bahwa kondisi mata yang tampak mengantuk pada Gibran merupakan ptosis, yaitu kelainan anatomis pada kelopak mata yang dapat bersifat bawaan sejak lahir, fungsional, atau akibat masalah medis tertentu.
“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON!”
Ia menilai menjadikan kondisi fisik semacam itu sebagai bahan humor adalah bentuk yang tidak tepat dan merendahkan.
Sejumlah warganet kemudian membandingkan sikap Tompi dengan pantun yang pernah dilontarkan Presiden Prabowo Subianto mengenai Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Prabowo pernah berpantun: “Bahlil orangnya hitam, giginya putih.”
Pantun tersebut menggambarkan warna kulit Bahlil yang gelap disertai gigi yang putih, sebagai bagian dari candaan ringan dalam acara resmi.
Warganet menyoroti bahwa Tompi tidak pernah menyampaikan protes serupa terhadap pantun Prabowo yang juga menyentuh karakteristik fisik bawaan seseorang.
Mereka mempertanyakan konsistensi dalam membela kondisi fisik sebagai sesuatu yang tidak boleh dijadikan bahan lelucon atau pantun.
Perdebatan ini semakin ramai dengan beredarnya meme kolase foto yang membandingkan reaksi terhadap kedua kasus tersebut.
Gambar-gambar tersebut menampilkan Pandji saat marah, Prabowo berpantun, serta Tompi dalam pose serius, disertai narasi sindiran tentang standar ganda.
Pandji sendiri telah merespons kritik Tompi dengan menerima penjelasan medis dan menyatakan apresiasi atas masukan tersebut.
Meski demikian, diskusi di media sosial tetap berlanjut mengenai batasan humor politik, pantun publik, serta sensitivitas terhadap ciri fisik individu.
Kasus ini mencerminkan dinamika opini publik yang sering kali menilai perbedaan penanganan terhadap figur-figur tertentu dalam konteks yang serupa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

