
Repelita Jakarta - Pakar hukum tata negara Universitas Andalas Feri Amsari menyuarakan kekhawatiran mendalam atas tren pengabaian terhadap konstitusi yang semakin nyata sepanjang tahun 2025 dan mulai merembet ke tahun 2026.
Feri mengungkapkan pandangannya dalam sebuah podcast di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
Ia menyoroti sejumlah kasus yang menunjukkan sikap acuh tak acuh elit politik terhadap aturan dasar negara.
Kita rasakan belakangan penghormatan terhadap konstitusi itu diabaikan. Mulai dari kasus Gibran, Kaesang dan pengabaian pasal-pasal dan putusan MK oleh elit politik katanya.
Feri juga menyinggung wacana pemilihan kepala daerah secara tidak langsung yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto.
Terakhir yang saya baca soal pemilu daerah dan nasional itu mau diabaikan. Karena keinginan Pak Prabowo adalah pemilu perwakilan untuk kepala daerah ungkapnya.
Selain itu, ia menambahkan pengabaian terhadap putusan Mahkamah Konstitusi nomor 114 tahun 2025 mengenai jabatan kepolisian di lingkungan sipil.
Dan juga pengabaian putusan MK nomor 114 PU23 2025 tentang jabatan kepolisian di ranah sipil sambungnya.
Semua contoh tersebut dinilainya sebagai pelanggaran nilai-nilai konstitusional yang membawa risiko serius.
Itu semua pengabaian terhadap nilai-nilai konstitusional yang menurut saya berbahaya paparnya.
Menurut Feri, konstitusi saat ini merupakan warisan utama dari era reformasi yang wajib dijaga integritasnya.
Padahal ini satu-satunya alat atau kepentingan rezim reformasi untuk dipertahankan. Kalau ini hancur, perhormatan ke konstitusi rusak dan dikembalikan kepada UUD ke naskah kemerdekaan katanya.
Jika pengabaian terus berlanjut hingga merusak fondasi konstitusi, hal itu dapat membuka jalan bagi kembalinya rezim otoriter.
Maka tuntas sudah ini dimanfaatkan untuk kerusakan berikut yaitu otoritarianisme terangnya.
Feri menilai tren ini sebagai ancaman nyata terhadap demokrasi yang telah dibangun pasca-reformasi.
Pengabaian berulang terhadap konstitusi dikhawatirkan akan menggerus prinsip negara hukum dan membawa bangsa ke arah yang tidak diinginkan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

