:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/gibran-pandji1-tribunmedan.jpg)
Repelita Jakarta - Dokter Tifa melalui akun X pribadinya @DokterTifa menyampaikan perbedaan antara kondisi ngantuk dan ptosis dalam sebuah unggahan yang diposting pada 8 Januari 2026.
Menurutnya ngantuk merupakan kondisi episodik yang bersifat sementara dan dapat hilang setelah istirahat atau stimulasi tertentu.
Sedangkan ptosis digambarkan sebagai kondisi persisten yang tetap ada secara konsisten di berbagai situasi dan tidak mudah berubah meskipun konteks berganti.
Dokter Tifa menjelaskan bahwa ngantuk bersifat datang dan pergi serta tidak menunjukkan pola yang tetap sementara ptosis menunjukkan kestabilan lintas waktu dan situasi.
Ia menilai bahwa apa yang teramati pada Gibran Rakabuming Raka merupakan pola persisten yang tampak dalam berbagai kesempatan seperti debat pidato wawancara dan acara resmi.
Kondisi tersebut menurutnya bukan sekadar efek kurang tidur satu malam melainkan pola yang konsisten dan tidak boleh diabaikan dalam perspektif ilmu neurosains.
Dokter Tifa menegaskan bahwa ptosis terkait dengan kerusakan psikoneurologis yang melibatkan aspek jiwa dan saraf sehingga memerlukan penanganan medis serius.

Ia menyatakan bahwa jika seorang dokter mendiagnosis seseorang mengalami blefaroptosis atau ptosis maka langkah yang tepat adalah memberikan saran untuk segera menjalani pengobatan.
Menurutnya negara seharusnya fokus mengobati kerusakan tersebut daripada terburu-buru memberikan jabatan tinggi.
Dokter Tifa kemudian menyampaikan saran pribadinya bahwa yang bersangkutan sebaiknya mengikuti program Kejar Paket C terlebih dahulu agar memperoleh ijazah SMA.
Unggahan tersebut memicu perbincangan luas di kalangan pengguna media sosial terkait pernyataan medis dan implikasi politik yang disampaikan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

