Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Arab Saudi dan UEA Tolak Wilayahnya Dipakai AS untuk Serangan ke Iran, Peta Geopolitik Timur Tengah Berubah

 KH Bachtiar Nasir Soroti...

Repelita Jakarta - Keputusan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menolak penggunaan wilayah mereka sebagai basis operasi militer Amerika Serikat menuju Iran dinilai sebagai sebuah perubahan besar dalam konstelasi geopolitik regional. Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia KH Bachtiar Nasir menyatakan langkah tersebut mencerminkan penguatan otonomi strategis negara-negara kawasan Teluk dalam menentukan kebijakan keamanan mereka sendiri.

Menurut analisis Bachtiar Nasir penolakan memberikan akses darat laut maupun udara untuk kepentingan militer terhadap Iran bukan semata-mata persoalan teknis operasional. Hal ini menunjukkan tingkat kemandirian strategis yang semakin berkembang di antara negara-negara kawasan tersebut dalam menghadapi tekanan dari kekuatan eksternal.

Laporan resmi dari Saudi Press Agency yang diterbitkan pada hari Selasa tanggal 27 Januari 2026 mengutip pernyataan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Dalam komunikasinya dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian MBS menegaskan bahwa kerajaannya tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan militer terhadap Iran oleh pihak manapun.

Bachtiar Nasir yang juga memimpin organisasi AQL tersebut menilai sikap tegas Arab Saudi tersebut menunjukkan prioritas baru dimana stabilitas kawasan ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan kekuatan dari luar. Sikap serupa juga telah dinyatakan secara resmi oleh pemerintah Uni Emirat Arab melalui keterangan Kementerian Luar Negeri mereka pada hari Senin tanggal 26 Januari 2026.

Pernyataan resmi dari Abu Dhabi tersebut menegaskan komitmen negara itu untuk bersikap netral dan menolak segala bentuk keterlibatan wilayah nasionalnya dalam upaya yang dapat memicu eskalasi konflik. Keputusan strategis dari kedua negara Teluk tersebut menurut Bachtiar Nasir lebih didasarkan pada pertimbangan jangka panjang terutama terkait stabilitas ekonomi dan keamanan nasional masing-masing.

Dia menjelaskan bahwa sikap ini tidak lahir dari pembelaan terhadap Iran secara ideologis melainkan lebih pada upaya melindungi masa depan ekonomi dan stabilitas di kawasan. Setiap eskalasi konflik yang terjadi akan mengganggu agenda transformasi ekonomi besar-besaran yang sedang dijalankan oleh negara-negara Teluk termasuk berbagai proyek dalam kerangka Visi 2030.

Kondisi perang terbuka menurutnya akan merusak iklim investasi yang selama ini menjadi fondasi utama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Lebih jauh Bachtiar Nasir menyebut bahwa penolakan akses wilayah ini memberikan implikasi signifikan terhadap perencanaan operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Tanpa dukungan logistik dari negara-negara kunci di Teluk Amerika Serikat akan menghadapi berbagai dilema operasional yang cukup berat dalam melaksanakan strategi militernya. Perkembangan geopolitik ini menurutnya perlu dicermati secara serius oleh Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton pasif dalam menyikapi perubahan peta kekuatan global yang sedang terjadi. Perubahan ini menuntut kepemimpinan dan solidaritas yang lebih nyata dan konkret dari dunia Islam secara keseluruhan dalam merespons dinamika internasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved