
Repelita Takengon - Dua puluh hari setelah bencana banjir bandang serta tanah longsor melanda, warga di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah mulai menghadapi kelangkaan bahan makanan pokok akibat isolasi wilayah.
Keterputusan akses jalan memaksa masyarakat mengambil inisiatif sendiri untuk mencari kebutuhan dasar.
Mereka nekat menerobos jalur lintas KKA dengan berjalan kaki melalui medan berbahaya menuju Kota Lhokseumawe.
Salah seorang penduduk Takengon bernama Heri menceritakan pengalamannya dua hari sebelumnya.
Ia bersama dua teman berani melintasi rute ekstrem hanya untuk membeli beras serta kebutuhan pokok lainnya.
"Beli beras aja, kalau nunggu bantuan dari pemerintah lebih dulu mati kita," demikian Heri.
Jalur Kem pada lintas KKA kini menjadi satu-satunya opsi darat yang tersedia bagi warga dua kabupaten tersebut.
Rute ini sering digunakan penyintas untuk mendapatkan sembako serta bahan bakar minyak.
Ketua Posko Rakyat, Mahlizar, di Aceh Tengah menyampaikan kondisi terkini pada Minggu.
"Di jalur ini sampai saat ini terus dipadati oleh penyintas bencana. Setiap harinya ada ribuan orang lalu lalang, baik yang mencari sembako, BBM, dan lain-lain," kata Mahlizar di Aceh Tengah, Minggu.
Bagian jalur dari Kampung Buntul hingga Kampung Kem di Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, telah terputus total sejak akhir November lalu.
Warga terpaksa berjalan kaki selama sekitar lima jam melewati medan yang sangat sulit.
Banyak di antara mereka mengalami kelelahan berat hingga cedera ringan akibat perjalanan tersebut.
"Dari Kem sampai Buntul warga harus berjalan kaki lima jam melewati medan jalan ekstrem. Tidak sedikit dari mereka kelelahan dan mengalami cedera. Karena itu kami mengajak para pihak terkait untuk segera mendirikan posko kesehatan di sana," ujarnya.
Permintaan pendirian posko kesehatan darurat di jalur tersebut semakin mendesak mengingat intensitas penggunaan yang tinggi setiap hari.
Editor: 91224 R-ID Elok

