
Repelita Jakarta - Cendekiawan Nahdlatul Ulama Ustaz Hilmi Firdausi mengkritik keras perilaku pejabat yang lebih memprioritaskan pencitraan daripada penanganan bencana banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Sumatera.
Ia menyoroti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang rela bepergian jauh ke Sumatera untuk menunjukkan solidaritas, padahal daerah asalnya sendiri sedang dilanda bencana serupa.
Ada Gubernur provinsi lain bela-belain datang ke Sumatera padahal daerahnya sedang banjir juga.
Ustaz Hilmi menilai aksi tersebut hanyalah upaya membangun citra diri di tengah situasi darurat yang seharusnya difokuskan pada bantuan nyata bagi korban.
Ada Bupati malah kampanye memuji-muji Presiden berlebihan di hadapan korban bencana.
Ia juga menyentil seorang bupati yang memilih meninggalkan tanggung jawabnya untuk berangkat umrah bersama keluarga saat warganya masih kesulitan akibat bencana.
Ada Bupati yang menyerah menangani bencana terus pergi umrah sekeluarga.
Menurut Ustaz Hilmi, perilaku semacam itu semakin memicu kemarahan publik yang melihatnya sebagai ketidakpedulian total terhadap penderitaan rakyat.
Belum lagi pencitraan ala menteri, pembuat kebijakan hingga alam murka, anggota-anggota Dewan dengan gimik artisnya di daerah bencana.
Ia mengkritik komentar pejabat yang dianggap asal bicara dan menghina, ditambah dengan mobilisasi buzzer di media sosial untuk membela pemerintah yang lalai.
Ditambah komentar-komentar pejabat yang asbun dan nirempati plus buzzer-buzzer dikerahkan di medsos.
Dikerahkan untuk menyerang masyarakat yang kritis terhadap pemerintah yang lalai.
Ustaz Hilmi menyimpulkan bahwa situasi ini membuat banyak netizen bertanya-tanya apakah menjadi warga negara Indonesia adalah ujian kesabaran menuju surga.
Pantas banyak netizen bertanya, bisakah kita masuk surga lewat jalur sabar jadi WNI?(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

