
Repelita Jakarta - Mantan karyawan PT Indonesia Morowali Industrial Park mengungkapkan adanya unit keamanan khusus yang dioperasikan secara mandiri oleh perusahaan.
Unit keamanan tersebut dinamakan Morowali Security Service atau disingkat MSS sesuai dengan penuturan sumber yang diwawancarai.
"Mereka punya yang namanya MSS, Morowali Security Service," kata pria yang tidak disebutkan namanya itu dalam program televisi pada hari Selasa tanggal 2 Desember 2025.
Menurut keterangannya, unit keamanan ini menjalankan fungsi yang sangat mirip dengan kepolisian dalam lingkup kawasan industri.
Struktur kepemimpinannya bahkan melibatkan mantan petinggi Kepolisian Republik Indonesia pada posisi puncak.
"Jadi keamanannya sendiri, sudah mirip polisilah. Pimpinannya adalah mantan Kabaintelkam Polri, saya lupa nama persisnya. Pimpinannya MSS itu," kata dia.
Mantan karyawan tersebut mengakui bahwa akses masuk ke dalam kawasan IMIP sangat terbatas bahkan bagi aparat pemerintahan.
Petugas kepolisian, anggota Tentara Nasional Indonesia, hingga pejabat setempat seperti bupati mengalami kesulitan untuk memasuki wilayah tersebut.
"Bahkan bupati pun gak bisa masuk," kata dia.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa bandara IMIP yang kini menjadi perdebatan publik memang dibangun dengan tujuan khusus.
Fungsinya adalah untuk mempermudah mobilisasi tenaga kerja asing asal China yang dipekerjakan oleh perusahaan.
Sebelum bandara ini dibangun, proses perpindahan pekerja dilakukan melalui rute yang sangat panjang dan memakan biaya besar.
"Selama saya di sana itu mobilisasi dilakukan menggunakan pesawat komersial dari Beijing ke Soetta, terus dari Soetta ke Bandara Halu Oleo Kendari, lalu dilanjutkan jalan darat sampai ke Teluk Kendari. Dari Teluk Kendari berganti menjadi speedboat sampai ke pelabuhan privat. Jadi sangat mahal biayanya," tutur dia.
Volume tenaga kerja asing yang dipindahkan setiap harinya disebutkan mencapai angka yang sangat signifikan.
Jumlahnya dapat berkisar antara lima puluh hingga seratus orang per hari melalui proses mobilisasi tersebut.
"Sekali perjalanan itu rata-rata antara 50-100 orang, setiap hari, TKA China, setiap hari," kata dia.
Tenaga kerja asing China tersebut ditempatkan pada berbagai posisi dan tingkat jabatan di dalam perusahaan.
Mereka tidak hanya bekerja pada level manajerial namun juga pada posisi-posisi operasional yang lebih rendah.
"Mereka tidak hanya di level pimpinan, ada yang jadi tukang sapu, ada operator excavator, ada pegawai pelabuhan," kata dia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

