Repelita Jakarta - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanuddin Muhtadi, mengidentifikasi adanya kelompok pemilih yang menyatakan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto, namun tidak akan memilihnya kembali jika pemilihan umum diadakan saat ini.
Kelompok tersebut disebut sebagai “Prabowo satisfied nonvoters”, dengan selisih mencapai sekitar 30 persen antara tingkat kepuasan dan potensi dukungan elektoral.
Beberapa figur politik mulai menonjol dalam proyeksi kontestasi pemilu 2029.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi salah satu yang pertumbuhannya paling mencolok, dengan basis pendukung yang sangat solid di wilayah tersebut.
"Basis pemilih Dedi Mulyadi itu besar sekali… bahkan mengalahkan Pak Prabowo di Jawa Barat," ungkapnya pada Rabu, 24 Desember 2025.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga tetap menjadi nama yang kuat dalam radar politik mendatang.
Prof. Burhanuddin menilai bahwa Presiden Prabowo masih membuka kemungkinan untuk kembali berpasangan dengan Gibran pada pemilu berikutnya.
"Ini menarik artinya Pak Prabowo masih membuka opsi untuk bersama kembali Gibran di 2029," katanya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat lonjakan popularitas yang signifikan dalam waktu singkat.
Tingkat pengenalan publik terhadapnya telah mencapai sekitar 40 persen, dengan posisi elektabilitas yang melonjak hingga peringkat keenam dalam beberapa pengukuran.
"Elektabilitasnya tiba-tiba menyodok ke peringkat keenam," jelas Burhanuddin.
Nama-nama lain yang turut disebut mencakup Letkol Teddy Indra Wijaya, Anies Baswedan, serta berbagai elite partai yang sedang menyusun strategi kekuatan politik.
Pembahasan mengenai pemilu 2029 menjadi semakin aktual karena siklus politik nasional berjalan dengan cepat.
Tahapan persiapan pemilihan akan dimulai pada tahun mendatang, sehingga para aktor politik mulai menghitung posisi dan aliansi masing-masing.
“Mulai tahun depan sudah mulai gerilya menjelang Pemilu energi politisi pasti berkurang,” tegasnya.
Prof. Burhanuddin menyampaikan analisis ini tidak hanya untuk meramalkan persaingan, melainkan sebagai sinyal agar pemerintahan lebih tanggap terhadap indikator ekonomi dan politik terkini.
Kondisi pemulihan ekonomi yang belum optimal, tekanan pada daya beli masyarakat, serta pendekatan kebijakan yang masih bersifat populis berpotensi mengubah lanskap dukungan politik.
"Harus segera direspons kalau tidak angin positif bisa berbalik menjadi angin badai," katanya.
Dengan demikian, diskusi tentang calon potensial 2029 terkait erat dengan keharusan melakukan penyesuaian kebijakan.
Pemerintah perlu menyadari bahwa dinamika sosial-ekonomi akan membentuk preferensi pemilih, sehingga ruang bagi alternatif baru semakin lebar jika isu-isu krusial tidak ditangani secara efektif.
Ia juga menekankan pola pergeseran loyalitas pemilih, kemunculan tokoh dengan pertumbuhan eksponensial, serta perubahan hubungan antar-elite yang membuat situasi politik tetap terbuka.
Jika tren kepuasan publik, elektabilitas, serta stabilitas ekonomi tidak dikelola dengan baik, maka peluang bagi figur seperti Dedi Mulyadi, Purbaya Yudhi Sadewa, maupun Gibran untuk semakin kuat akan terbuka lebar.
Dalam kesimpulannya, Prof. Burhanuddin menegaskan bahwa konstelasi politik menuju 2029 masih sangat dinamis dan bergantung pada respons pemerintahan terhadap data serta perkembangan ekonomi saat ini.
"Ini semua masih sangat cair konstelasi ke depan akan sangat bergantung pada respons pemerintah terhadap data dan dinamika ekonomi," pungkasnya.
Editor: 91224 R-ID Elok

