
Repelita Batangtoru - Wilayah Desa Garoga di Kecamatan Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera Utara menyaksikan tragedi mengerikan ketika banjir bandang dahsyat menerjang pada Selasa pagi 25 November 2025 sekitar pukul sebelas waktu setempat akibat hujan lebat yang tak henti-hentinya sejak dini hari sehingga debit air dari Sungai Garoga Sungai Batuhoring dan Sungai Batangtoru meluap secara bersamaan dan menyatukan aliran mereka menjadi gelombang raksasa yang menyapu hampir seluruh permukiman warga tanpa ampun.
Kekuatan arus yang mencapai ketinggian setara atap rumah sekitar satu hingga dua meter itu tidak hanya merobohkan dinding-dinding kayu sederhana milik ratusan keluarga tetapi juga membawa serta tumpukan kayu gelondongan dari hulu sungai yang selama ini menjadi sumber kontroversi karena dugaan aktivitas penebangan liar sehingga material tersebut bertabrakan dengan bangunan dan mempercepat kehancuran total terhadap infrastruktur desa yang sudah rapuh akibat musim hujan berkepanjangan.
Dalam sekejap mata seratus empat puluh unit rumah dari total tiga ratus kepala keluarga lenyap ditelan lumpur dan puing-puing yang beterbangan seperti tsunami mini sementara pasar tradisional Hutagodang yang menjadi pusat perekonomian lokal juga hancur lebur dengan kios-kios dagang terapung di permukaan air keruh yang penuh dengan barang-barang rumah tangga seperti pakaian perabotan dan peralatan masak yang tak sempat diselamatkan oleh pemiliknya.
Korban jiwa yang awalnya tercatat enam orang dengan identitas seperti M Yusuf berusia empat puluh satu tahun Zakiyah Harahap sebelas tahun dan Fikri tiga belas tahun semuanya berasal dari Desa Garoga kini bertambah menjadi empat puluh tiga jiwa per Sabtu 29 November 2025 menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat di mana jasad-jasad tersebut disimpan sementara di Puskesmas Batangtoru untuk proses identifikasi dan serah terima kepada keluarga yang ditinggalkan dalam duka mendalam.
Upaya evakuasi yang dilakukan oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia dari Koramil Satu Batangtoru Kodim Dua Satu Dua Tapanuli Selatan menjadi cerita heroik di tengah malapetaka ketika dua anggota tim sempat terseret arus deras selama ratusan meter namun berhasil diselamatkan oleh rekan-rekannya sambil terus menarik warga termasuk perempuan anak-anak dan lansia ke daratan tinggi menggunakan perahu karet dan tali pengaman darurat.
Warga seperti Erwin yang berusia dua puluh lima tahun mengisahkan pengalaman mengerikan ketika ia dan keponakannya yang baru satu tahun terseret hingga lima ratus meter dari rumah sebelum akhirnya berhasil meraih pohon tepi sungai sementara anak kecil itu sayangnya tidak beruntung dan menjadi salah satu dari tiga puluh dua korban meninggal di Tapanuli Selatan saja dengan luka-luka berat pada tiga puluh empat penduduk lainnya yang dirawat di fasilitas kesehatan terdekat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan mencatat bahwa dua ratus lima puluh keluarga terdampak secara langsung dengan kerusakan jalan raya yang berlumpur tebal kendaraan roda dua dan empat yang rusak parah serta rumah ibadah seperti masjid yang kini dipenuhi endapan tanah sehingga penduduk setempat harus membersihkan puing secara manual sambil menunggu bantuan logistik dari pemerintah pusat.
Organisasi lingkungan hidup di Sumatera Utara menyoroti peran deforestasi di daerah aliran sungai Garoga dan Aek Ngadol yang mencapai delapan puluh persen akibat dugaan pertambangan ilegal meskipun perusahaan tambang besar membantah keterlibatan mereka dengan alasan lokasi berbeda namun tumpukan kayu yang menggunung di sungai menjadi bukti nyata eksploitasi hutan yang merugikan warga bawah.
Pemerintah provinsi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Utara telah mengerahkan tim gabungan pencarian dan pertolongan untuk membuka akses darurat menggunakan jembatan sementara dan helikopter pengiriman bantuan sehingga warga yang selamat kini mengandalkan dapur umum di Desa Batu Hula untuk makanan dasar air bersih dan obat-obatan pencegah penyakit pasca bencana.
Kondisi pasca musibah ini meninggalkan jejak luka mendalam bagi komunitas Garoga yang mayoritas petani dan nelayan sungai di mana aktivitas sehari-hari seperti mencuci pakaian dan memeriksa kerusakan rumah saudara masih dilakukan di tengah genangan lumpur sementara pelajaran dari kejadian ini menjadi pengingat akan urgensi pelestarian hutan dan sistem peringatan dini yang lebih baik untuk mencegah pengulangan tragedi serupa di wilayah rawan hidrometeorologi Sumatera Utara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

