
Repelita Langkat - Kelompok ibu-ibu rumah tangga di Desa Pekan Besitang Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat Sumatera Utara nyaris memicu keributan besar saat menyuarakan kemarahan mereka secara lantang terhadap tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan yang dianggap lamban merespons permohonan evakuasi darurat sejak banjir bandang melanda wilayah tersebut sejak Rabu malam 26 November 2025 akibat luapan Sungai Besitang yang meluap karena curah hujan ekstrem mencapai empat ratus milimeter per hari.
Rekaman video berdurasi lima puluh dua detik yang diunggah melalui akun langkat_update di platform TikTok pada Selasa 27 November 2025 menangkap momen di mana para perempuan tersebut menghadang kendaraan dinas dan perahu karet tim penyelamat yang terlihat mondar-mandir tanpa membawa korban meski sudah menerima laporan tentang warga sakit yang memerlukan pertolongan segera di tengah genangan air setinggi delapan puluh hingga seratus enam puluh sentimeter.
Dalam cuplikan tersebut perekam secara emosional menyoroti ketidakjelasan prosedur operasional tim yang datang dari Tanjung Pura namun berulang kali menolak bantuan dengan alasan tidak mampu tanpa penjelasan rinci sementara anak-anak dan lansia di dusun Kampung Lama sudah mengalami kelaparan dan dehidrasi setelah tiga hari terkurung di rumah-rumah yang terendam lumpur tebal.
Situasi memanas ketika salah satu ibu-ibu dengan suara bergetar menantang petugas mengenai peran mereka sebenarnya di lapangan karena peralatan seperti perahu karet justru ditarik kosong tanpa muatan korban padahal desa tersebut telah kehilangan satu nyawa lansia yang ditemukan terjebak dalam banjir dan langsung diserahkan kepada keluarga oleh tim gabungan.
Meski hampir berkembang menjadi konfrontasi fisik dengan dorongan-dorongan ringan terhadap perahu tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, insiden itu berhasil diredam oleh personel Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisan Republik Indonesia yang turun tangan memisahkan massa sambil menjanjikan percepatan evakuasi bagi sisa warga yang masih terjebak di lokasi terisolir.
Ketua Masyarakat Pelestari Lingkungan Indonesia Yusuf Hanafi Sinaga dalam pernyataannya pada Minggu 29 November 2025 menuntut klarifikasi resmi dari lembaga penyelamat nasional mengenai dugaan kelalaian atau kekurangan sumber daya manusia yang kompeten sehingga menyebabkan penundaan respons di tengah kondisi darurat yang mengancam nyawa ratusan jiwa di Kabupaten Langkat.
Yusuf Hanafi Sinaga menekankan bahwa lokasi bencana bukanlah arena rekreasi melainkan medan pertarungan melawan waktu di mana setiap detik bisa menentukan selamat atau tidaknya korban sehingga lembaga terkait wajib melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur standar operasional dan transparansi laporan lapangan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan Hery Marantika mengakui adanya tantangan logistik dan pemadaman jaringan komunikasi yang menghambat koordinasi awal namun menegaskan bahwa dua tim rescue berjumlah empat belas personel beserta peralatan telah dikerahkan segera setelah menerima informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Langkat pada malam hari sebelumnya.
Hery Marantika menambahkan bahwa tim gabungan yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Langkat Tentara Nasional Indonesia Kepolisan Republik Indonesia perangkat desa serta relawan masyarakat telah berhasil mengevakuasi lebih dari seratus warga termasuk perempuan anak-anak dan lansia ke posko pengungsian sementara di sekolah dan rumah ibadah setempat meski curah hujan yang masih tinggi berpotensi memicu banjir susulan.
Pemerintah Kabupaten Langkat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat membuka jalur pelaporan darurat dua puluh empat jam dengan nomor hotline zero eight lima satu sembilan satu tujuh sembilan lima lima tujuh sembilan untuk memastikan keluhan warga seperti yang dialami para ibu-ibu tersebut dapat ditangani lebih cepat di tengah ribuan rumah yang terendam dan kerugian ekonomi mencapai ratusan juta rupiah akibat kerusakan infrastruktur desa.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak terkait bahwa penanganan bencana hidrometeorologi memerlukan kolaborasi yang lebih erat dan responsif guna mengurangi dampak emosional pada korban terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak yang sering menjadi garda terdepan dalam menjaga kelangsungan hidup keluarga di zona rawan bencana seperti wilayah Langkat yang berbatasan langsung dengan sungai besar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

