Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Polemik Ketum PBNU: Dipecat karena Undang Tokoh Zionis, Gus Yahya Bertahan Pakai Dalil AD/ART Muktamar Lampung

Konferensi Pers hasil rapat Alim Ulama PBNU di kantor PBNU, Jakarta, Minggu (23/11/2025) malam.

Repelita Jakarta - Konflik kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masih terus memanas hingga Kamis 27 November 2025 tanpa ada tanda-tanda penyelesaian yang jelas.

Kubu Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar melalui Pengurus Harian Syuriyah tetap bersikukuh memberhentikan Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum karena dianggap mencemarkan nama baik organisasi.

Penyebab utama adalah kehadiran Peter Berkowitz yang dinilai sebagai tokoh pro-Zionis dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama pada November 2025.

Keputusan pemberhentian tidak dengan hormat tersebut tertuang dalam rapat Pengurus Harian Syuriyah tertanggal 20 November 2025 dengan dasar Peraturan Perkumpulan Nomor 13 Tahun 2025 Pasal 8 huruf a.

Yahya Cholil Staquf menolak keputusan tersebut karena menganggap hanya Muktamar atau Muktamar Luar Biasa yang berhak mencabut mandat Ketua Umum sesuai AD/ART hasil Muktamar ke-34 Lampung tahun 2022.

Menurut Gus Yahya, Pengurus Harian Syuriyah tidak memiliki kewenangan membatalkan hasil Muktamar yang dihadiri dua pertiga wilayah dan cabang istimewa secara sah.

Katib Syuriyah PBNU Sarmidi Husna menegaskan bahwa tindakan mengundang narasumber pro-Zionis telah merusak reputasi perkumpulan serta melanggar Qanun Asasi dan paham Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Sementara itu, warga Nahdliyin di berbagai daerah menyatakan rasa kecewa mendalam atas perseteruan para petinggi organisasi yang mereka junjung.

Kesal, sedih, kecewa, (tetapi) enggak berani banyak komentar karena yang ribut ulama, kata Syakirun, warga NU asal Cilacap, Jawa Tengah.

Ia menilai konflik ini menjadi pengingat agar PBNU tidak lagi terlalu dekat dengan penguasa dan kembali fokus melayani kepentingan jamaah akar rumput.

Malu sama jemaahnya, kiai kampung, kiai langgar yang ngabdikan hidupnya dan tetap hidup sederhana, sama simbok-simbok yang rajin berangkat pengajian, siapin jajanan buat kehidupan jemaah lain meski dia hidup kekurangan. Malu, nangis kan aku jadinya.

Sementara warga Nahdliyin asal Lombok Tengah, Muzawwir, menyarankan agar pengurus lebih memilih menjadi NU kultural ketimbang berebut jabatan struktural yang justru menghalangi pengabdian kepada umat.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang juga nahdliyin turut menyampaikan agar konflik segera diakhiri demi menjaga keutuhan organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Para pengamat menilai perseteruan dualisme kepemimpinan ini berpotensi merugikan NU kultural yang selama ini menjadi basis massa utama PBNU di tingkat grassroot.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved