
Repelita Jakarta - Presidium Musyawarah Luar Biasa Nahdlatul Ulama KH Imam Jazuli menyatakan bahwa konflik internal yang kini membara di tubuh organisasi terbesar Islam di Indonesia ini bermuara pada sejumlah kebijakan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang dinilai menyimpang dari khittah dan nilai-nilai luhur NU.
Salah satu sorotan paling keras adalah kedekatan Gus Yahya dengan figur-figur yang dianggap memiliki hubungan dengan kelompok pro-Zionis, sebuah isu yang telah lama mengganggu hati para kiai dan ulama senior.
Klarifikasi yang berulang kali disampaikan dalam forum-forum internal justru dianggap sebagai upaya pembenaran, bukan penyelesaian, sehingga semakin memperlebar jurang ketidakpercayaan.
Kita tahu bahwa langkah yang dilakukan Gus Yahya ini telah mencemarkan NU, tegas Imam Jazuli dalam wawancara di kanal YouTube Metro TV.
Bagaimana NU di medsos dibully, dipersalahkan sama banyak pihak hanya gara-gara kesalahan Gus Yahya, Jadi sudah nyata, bukan butuh klarifikasi apa lagi, lanjutnya dengan nada prihatin.
Selain isu hubungan luar, Imam Jazuli juga mengungkap adanya temuan serius terkait dugaan penyimpangan pengelolaan keuangan di PBNU yang dipaparkan lengkap dengan bukti dalam rapat Syuriyah tertutup.
Bukti-bukti tersebut dinilai cukup kuat untuk menjadi landasan keputusan Syuriyah yang meminta Gus Yahya segera mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum.
Jika penolakan mundur tetap dipertahankan, Imam Jazuli memperingatkan potensi perlawanan terbuka dari kubu tanfidziyah serta konsolidasi para ketua wilayah yang dapat berujung pada mosi tidak percaya massal.
Situasi tersebut berisiko melahirkan dualisme kepemimpinan seperti yang pernah terjadi di masa lalu, sebuah skenario yang sangat tidak diinginkan oleh mayoritas warga Nahdliyin.
Cara tercepat menyelesaikan krisis ini, menurut Imam Jazuli, adalah dengan menghormati putusan Syuriyah dan melakukan pendinginan suasana secepat mungkin.
Namun bila ketegangan terus meningkat tanpa solusi, penyelenggaraan Musyawarah Luar Biasa menjadi opsi paling realistis untuk merestorasi kepercayaan dan menata ulang kepemimpinan organisasi.
Ia juga menyinggung kelemahan koordinasi di level tertinggi, termasuk keterlibatan Rais Aam dalam beberapa keputusan kontroversial yang kini menjadi bahan tudingan bersama.
Tanpa langkah penyelesaian yang bijak dan cepat, stabilitas Nahdlatul Ulama terancam mengalami fragmentasi serius menjelang agenda besar yang sudah menanti di tahun mendatang.
Editor: 91224 R-ID Elok

