Menurut Herwin, ucapan Ahmad Ali justru mengungkap ketergantungan PSI yang selama ini terlalu mengandalkan dukungan Jokowi sebagai pendorong utama eksistensi partai tersebut di panggung politik nasional.
Ada Jokowi saja PSI sudah tidak istimewa. Apalagi sekarang, ketika bayangannya pun sudah tidak ada?, tulis Herwin Sudikta melalui akun X @bangherwin pada 24 November 2025.
Ia mempertanyakan fondasi PSI yang dinilainya lemah tanpa sosok Jokowi, sehingga partai berlambang gajah itu kesulitan menarik simpati pemilih secara organik.
Lalu apa alasan publik memilih PSI?, timpal Herwin Sudikta dalam unggahan yang sama.
Herwin menilai bahwa PSI tidak memiliki landasan ideologi yang jelas, rekam jejak integritas yang meyakinkan, maupun komitmen transparansi yang dapat menjadi daya tarik utama bagi masyarakat.
Ideologi? Nggak punya. Integritas? Jangan bercanda. Transparansi? Semakin jauh, bahkan urusan private jet Kaesang saja masih gelap, imbuh Herwin Sudikta.
Menurutnya, pernyataan Ahmad Ali ini menjadi cermin bahwa PSI masih bergulat dengan identitas diri pasca era Jokowi, di mana partai tersebut lebih dikenal sebagai pendukung setia daripada entitas politik mandiri.
Herwin juga menyiratkan bahwa tanpa reformasi mendalam, PSI berisiko tenggelam dalam kompetisi politik yang semakin ketat menjelang Pemilu 2029.
Ia menekankan bahwa ketergantungan pada figur eksternal seperti Jokowi justru membuat PSI kehilangan daya saing jangka panjang di mata pemilih yang kritis.
Pandangan Herwin ini sejalan dengan berbagai kritik lain terhadap dinamika partai kecil yang sering kali mengandalkan aliansi sementara daripada membangun basis massa yang solid dan ideologis.
Dengan demikian, pernyataan ini diharapkan memicu refleksi internal PSI untuk memperkuat fondasi agar tidak lagi bergantung pada satu tokoh saja.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

