Repelita Dhaka - Kepolisian Nasional Bangladesh resmi mengganti seragam lamanya yang berwarna biru toska dengan kemeja berwarna abu-abu dan celana cokelat mulai akhir November 2025.
Perubahan ini dilakukan sebagai langkah simbolis untuk memperbaiki citra institusi kepolisian yang rusak berat di mata masyarakat setelah terlibat dalam penindasan demonstrasi besar-besaran tahun lalu.
Penggantian seragam terjadi hanya beberapa minggu sebelum penyelenggaraan pemilihan umum pertama pasca lengsernya pemerintahan otoriter Sheikh Hasina pada Agustus 2024.
Juru bicara kepolisian Bangladesh Sahadat Hossaine menyatakan bahwa institusinya sedang mengalami krisis kepercayaan publik yang sangat dalam dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Para pembuat kebijakan berharap seragam baru dapat memberikan dampak positif terhadap persepsi masyarakat terhadap aparat penegak hukum.
Kerusuhan massal tahun 2024 yang menggulingkan Sheikh Hasina menyebabkan sedikitnya 1.400 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka, sebagian besar akibat tembakan langsung dari polisi.
Nazma Akhtar yang berusia 48 tahun kehilangan putra tunggalnya, Golam Nafeez berusia 17 tahun, yang tertembak polisi pada 4 Agustus 2024 dan kemudian ditolak masuk rumah sakit hingga meninggal dunia karena kehabisan darah.
Setiap kali saya melihat seorang polisi, saya merasa ingin menggigit dagingnya. Saya tidak tahu apakah saya akan bisa melupakan kebencian ini.
Bagaimana seragam baru bisa mengubah sikap mereka? Saya melihat mereka memukuli guru hanya karena menuntut kenaikan gaji.
Sejak jatuhnya rezim Hasina, sekitar 450 dari total 600 kantor polisi di seluruh negeri menjadi sasaran perusakan dan pembakaran oleh massa yang marah.
Banyak aparat meninggalkan posnya begitu saja saat pemerintah lama runtuh, dan kini mereka kesulitan untuk membangun kembali kepercayaan serta operasional.
Sekitar 1.500 personel kepolisian saat ini menghadapi proses hukum atas berbagai tuduhan pidana, termasuk pembunuhan, sementara sejumlah petinggi melarikan diri ke India.
Mantan kepala kepolisian nasional yang dianggap bertanggung jawab bersama Hasina telah dijatuhi hukuman penjara lima tahun.
Sedikitnya 44 anggota polisi tewas dibantai massa selama kekacauan tersebut, sementara pemerintah transisi memberikan kekebalan hukum kepada para pengunjuk rasa.
Seorang perwira polisi yang enggan disebut namanya mengungkapkan rasa frustrasinya dengan mengatakan bahwa polisi juga manusia.
Sultana Razia, istri seorang inspektur polisi yang tewas dianiaya massa setelah Hasina lengser, menyatakan bahwa suaminya tidak seharusnya mati dengan cara seperti itu.
Pemerintahan sementara di bawah Muhammad Yunus telah membentuk komisi khusus untuk mereformasi kepolisian, namun prosesnya masih berjalan sangat lambat.
Aktivis hak asasi manusia Abu Ahmed Faijul Kabir dari Ain o Salish Kendra menyatakan bahwa belum terlihat perubahan signifikan, terbukti masih ada 28 orang meninggal dalam tahanan polisi selama sepuluh bulan terakhir.
Kekerasan berlatar politik masih terus berlangsung hingga kini, dengan sekitar 300 korban jiwa akibat bentrokan dalam satu tahun terakhir menurut catatan organisasi Odhikar.
Alamgir Hossain, seorang tukang becak berusia 60 tahun, menilai bahwa polisi selama ini hanya menjadi alat politik rezim sebelumnya dan tidak pernah menghormati hukum yang berlaku.
Editor: 91224 R-ID Elok

