Repelita - Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengungkap kondisi kritis yang dialami warga akibat banjir yang telah melanda wilayahnya selama delapan hari berturut-turut.
Pada hari Minggu tanggal 30 November dia menyatakan bahwa banyak pengungsi yang terpaksa menahan lapar selama dua hari dua malam karena persediaan makanan yang menipis.
Dia terpaksa mengambil inisiatif dengan menyediakan beras dari salah satu pabrik di daerah Darul Aman untuk segera didistribusikan ke lokasi-lokasi yang masih dapat dijangkau.
Bantuan beras sebanyak 200 ton yang seharusnya datang dari Badan Logistik Nasional hingga kini belum juga tiba di Kabupaten Aceh Timur.
Banyak titik banjir yang sama sekali tidak dapat diakses oleh tim gabungan penanganan bencana karena terkendala material longsor dan genangan air yang sangat dalam.
Kecamatan Peunaron Lokop menjadi salah satu daerah terparah yang terisolasi akibat longsor sehingga menyebabkan para pengungsi di area perbukitan mengalami kelaparan.
Sebanyak lima desa di wilayah tersebut dilaporkan tenggelam sepenuhnya dan belum memungkinkan untuk dijangkau oleh tim penyelamat.
Seluruh kekuatan sumber daya manusia dan peralatan di Aceh Timur telah dikerahkan untuk menanggulangi bencana ini meskipun belum dapat menjangkau semua wilayah terdampak.
Daerah-daerah seperti Simpang Madat, Ulim, dan Pante Bidari masih menjadi lokasi yang paling sulit diakses karena kombinasi banjir terparah dan longsoran material.
Infrastruktur listrik dan telekomunikasi mengalami kerusakan total sehingga memutus akses informasi dari dan menuju wilayah bencana.
Pihak pemerintah daerah hanya dapat mengakses komunikasi internet dengan bantuan teknologi Starlink yang tersedia di Kota Idi.
Banjir besar ini tidak hanya melanda Kabupaten Aceh Timur tetapi juga wilayah-wilayah lain di Provinsi Aceh seperti Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen.
Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, serta Kabupaten Aceh Utara juga turut mengalami dampak kerusakan yang cukup parah akibat bencana alam ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

