Repelita Bandung - Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato inspiratif dalam wisuda sarjana Universitas Kebangkitan Republik Indonesia.
Acara yang digelar di Hotel Trans Luxury Bandung pada Sabtu 18 Oktober 2025 ini menghadirkan pesan khusus tentang ketangguhan menghadapi kegagalan.
Prabowo berbagi pengalaman pribadinya dalam menghadapi berbagai tantangan politik selama kariernya.
Ia menyebut diri sebagai contoh nyata bagaimana seseorang harus pantang menyerah meski berkali-kali mengalami kegagalan.
Presiden menekankan pentingnya sikap bangkit setiap kali mengalami jatuh dalam perjalanan hidup.
Pesan khusus juga disampaikan mengenai peran ibu dalam membesarkan dan mendidik anak-anak.
Prabowo mengutip ajaran agama tentang surga yang berada di bawah telapak kaki ibu.
Ia memuji pengorbanan para ibu yang membesarkan anak tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Lagu favoritnya tentang ketulusan memberi tanpa pamrih turut dinyanyikan dalam kesempatan tersebut.
Presiden menitipkan pesan agar para wisudawan menghadapi setiap masalah dengan berani.
Niat baik dalam berbuat harus diiringi dengan kesiapan menghadapi berbagai tantangan.
Dunia menurutnya dipenuhi orang-orang jahat yang suka menindas dan berbuat zalim.
Perjuangan menegakkan kebenaran pasti akan menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan.
Prabowo mendorong generasi muda untuk tidak mudah menyerah atau lari dari tanggung jawab.
Pemilihan jalan yang benar meski penuh kesulitan menjadi kunci kebangkitan bangsa.
Ilmu pengetahuan harus dimanfaatkan untuk pengabdian kepada negara dan masyarakat.
Proses belajar menurutnya tidak boleh berhenti meski sudah menyandang gelar sarjana.
Presiden mengaku masih belajar dua hingga empat jam setiap hari untuk meningkatkan pengetahuan.
Teknologi modern seperti YouTube dan kecerdasan buatan menjadi sarana belajar yang dimanfaatkannya.
Namun Prabowo juga mengingatkan dampak negatif penyalahgunaan teknologi.
Kecerdasan buatan bisa digunakan untuk menciptakan dan menyebarkan kebohongan secara masif.
Contoh konkret adalah video rekayasa yang menampilkan dirinya pandai bernyanyi.
Generasi muda diminta tetap waspada terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi.
Keramahan dan keluguan bangsa Indonesia tidak boleh dimanfaatkan untuk menipu.
Pemimpin harus bersikap ramah dan sopan namun tidak boleh mudah diperdaya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

