Repelita Jakarta - Polemik proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kembali memanas setelah Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa proyek tersebut sudah bermasalah sejak awal.
Pernyataan Luhut itu menuai kritik tajam dari politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga tokoh Nahdlatul Ulama, Umar Sahadat Hasibuan atau Gus Umar.
Gus Umar menilai pernyataan Luhut sebagai bentuk pengalihan tanggung jawab atas persoalan yang kini muncul dalam proyek strategis tersebut.
Lempar fitnah sembunyi kasus. Kalau sudah tahu barang busuk napa lu paksain Luhut? Sekarang Setelah viral lu buang badan.
Sebelumnya, Luhut mengaku bahwa saat dirinya diminta menjadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung, proyek tersebut sudah dalam kondisi tidak baik dan membutuhkan audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Saya yang dari awal mengerjakan itu, karena saya nerima sudah busuk itu barang.
Lalu kita coba perbaiki, kita audit, BPKP ikut, kemudian kita berunding dengan China.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak akan digunakan untuk membayar utang proyek Whoosh.
Ia menyebut bahwa Danantara memiliki kapasitas keuangan yang cukup untuk menyelesaikan kewajiban tersebut tanpa melibatkan dana negara.
Meski demikian, Purbaya mengatakan bahwa CEO Danantara, Rosan Roeslani, masih melakukan kajian teknis untuk merumuskan skema penyelesaian utang yang tepat.
Mereka (Danantara) akan purpose ke kita seperti apa. Ya kira-kira nanti kita tunggu deh seperti apa studinya.
Namun, yang jelas, saya tanya ke beliau (Rosan) tadi, apakah di klausulnya yang bayar harus pemerintah?
Kan yang penting, kalau yang saya tahu CDB (China Development Bank) mereka yang penting struktur pembayarannya clear.
Jadi seharusnya enggak ada masalah. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

