
Repelita Jakarta - Kontroversi tayangan Trans7 yang dianggap menghina kiai dan pesantren terus menuai perhatian publik.
Direktur Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, menyatakan bahwa insiden tersebut bukan sekadar kelalaian, melainkan bagian dari skenario yang dirancang secara sistematis.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah talk show di TVNU, di mana Islah memaparkan bahwa penghinaan terhadap pesantren bukanlah peristiwa tunggal, melainkan rangkaian agenda panjang yang menyasar lembaga keagamaan tradisional di Indonesia.
“Trans7 ini sejak tahun 2014 sudah nyala. Saya tenaga ahli di Densus 88 selama 6 tahun, saya berada di sana,” ujarnya dilansir dari YouTube TVNU.
“Saya tahu persis bagaimana gesturnya Trans7 (Trans Corporation) ini ketika melakukan operasi-operasi itu lewat tayangan-tayangan. Coba itu tayangan-tayangan yang dulu tentang ISIS, tentang khilafah, itu selalu diamplifikasi,” sambungnya.
Islah mengaitkan peristiwa ini dengan upaya mendiskreditkan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, pesantren yang berafiliasi dengan NU sejak lama dianggap sebagai penghalang bagi kelompok-kelompok yang memiliki agenda tertentu.
Sejak era Resolusi Jihad, pesantren dinilai menjadi benteng perlawanan terhadap gerakan yang mengancam keutuhan negara.
Ia juga menyoroti pola tayangan Trans7 sejak beberapa tahun terakhir yang dinilai kerap memperbesar isu-isu keagamaan tertentu.
“Ini saya sudah perhatikan, ada Khazanah, itu Khazanah Trans7, itu juga selalu mengamplifikasi berbagai agenda Hizbut Tahrir maupun Ikhwanul Muslimin,” gamblangnya.
“Karena upaya-upaya mendiskreditkan pesantren dan kiai itu adalah bagian dari operasi-operasi untuk meruntuhkan Nahdlatul Ulama. Itu harus disadari,” imbuhnya.
Menurutnya, pola ini menunjukkan adanya kecenderungan amplifikasi terhadap agenda kelompok-kelompok transnasional.
Islah menyebut bahwa praktik seperti ini tidak bisa dipandang sebagai kesalahan teknis semata, melainkan memiliki muatan ideologis yang patut diwaspadai.
Kontroversi ini bermula dari tayangan program Xpose Uncensored yang dinilai merendahkan citra pesantren.
Tayangan tersebut memicu gelombang protes luas dari masyarakat, terutama kalangan santri dan kiai, hingga berujung sanksi administratif dari Komisi Penyiaran Indonesia.
Kasus ini menjadi sorotan nasional karena menyentuh aspek sensitif yang berkaitan dengan lembaga keagamaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

