Herwin justru menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Menurutnya, berbagai kebijakan yang dijalankan Bahlil justru seringkali merugikan masyarakat kecil dan lingkungan.
“Golkar bilang Bahlil diframing jahat, padahal katanya berpihak ke rakyat. Tapi kalau lihat rekam jejaknya, justru rakyat yang sering jadi korban,” ujar Herwin (15/10/2025).
Herwin menyoroti sejumlah kebijakan yang dianggap memperlihatkan ketimpangan antara narasi pro-rakyat dan kenyataan.
“Gas 3 kilogram langka, pulau-pulau kecil di Halmahera dan Raja Ampat digerus tambang atas nama investasi,” katanya.
Ia juga menilai kebijakan pencampuran etanol pada bahan bakar (E10) justru memberatkan masyarakat karena menambah biaya dan merusak mesin kendaraan.
Herwin menyebut upaya pihak tertentu menggambarkan Bahlil sebagai pejuang rakyat hanyalah bentuk pencitraan politik.
“Ironis, pejabat yang terus mendorong ekspansi tambang di kawasan konservasi malah dipoles sebagai pejuang rakyat,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan yang menguntungkan korporasi besar dan meninggalkan kerusakan ekologis tidak bisa disebut berpihak pada rakyat.
“Padahal kalau kebijakan cuma nguntungin korporasi dan ninggalin luka ekologis, sebenarnya dia berpihak ke siapa? Setan kok dituduh jadi malaikat?” pungkas Herwin.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

