Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Heboh Pernyataan Menkeu Purbaya soal Siap Diracun Ternyata Tidak Benar, Ini Faktanya

 Purbaya Ditegur, Terlalu Sering Komentari Kebijakan Kementerian Lain

Repelita Jakarta - Sebuah pernyataan yang diklaim berasal dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendadak viral di media sosial.

Dalam unggahan tersebut, Purbaya disebut menyatakan tidak takut ditembak atau diracun seperti almarhum Munir karena dirinya sudah tua dan hanya ingin mengabdi kepada masyarakat.

"Saya sudah tua, saya tidak peduli mau di tembak atau di racun sekampung seperti almarhum Munir dulu, saya sudah tua, saya hanya ingin mengabdi untuk masyarakat," demikian bunyi kutipan yang beredar.

Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh akun Instagram resmi PPID Kementerian Keuangan.

"Beredar unggahan di platform Facebook mengenai pernyataan Menkeu RI tidak takut ditembak atau diracun. Unggahan ini merupakan HOAKS," tulis akun @ppid.kemenkeu.

Meski demikian, Purbaya memang sempat menyampaikan pandangannya soal perjalanan panjang kariernya di pemerintahan.

Dalam forum Investor Daily Summit 2025 di Jakarta, ia mengungkapkan bahwa dirinya telah lama berinteraksi dengan para tokoh besar lintas rezim.

“Jadi, saya sudah biasa bergaul dengan top-top thinker-nya di Indonesia. Saya enggak pernah takut sama siapa saja jadinya. Saya udah selalu terekspos dengan cara berpikir mereka, cara mereka mengambil keputusan,” ujar Purbaya pada Jumat, 17 Oktober 2025.

Ia menyebut pernah bekerja bersama Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Chairul Tanjung, serta Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.

Purbaya juga memuji Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya cepat dan tegas dalam mengambil keputusan.

Ia mengaku sempat menakut-nakuti Prabowo agar segera melakukan perubahan kebijakan ekonomi untuk mencegah pergantian kekuasaan.

Purbaya menceritakan bahwa dirinya dipanggil ke Hambalang, Bogor, bersama empat orang lainnya pada Jumat, 5 September 2025.

Dalam tiga kali pertemuan, ia sempat memilih diam, namun akhirnya berbicara langsung kepada Presiden pada hari ketiga, Minggu, 7 September 2025.

"Kalau hari Minggu, waktu itu saya enggak ngomong, ya sudah lah, enggak ada kans untuk bicara lagi. Waktu ketemu, rapatnya berlima," tuturnya.

"Begini, begini, begini, saya bilang tadi, saya takut-takuti, Februari Pak (bakal pergantian kekuasaan), Oh gitu ya? Nah itu, recipe to my success, kita takut-takutin dia," tambahnya.

Dalam rapat tersebut, Purbaya menyodorkan data ekonomi dari era Presiden ke-2 Soeharto hingga Presiden ke-7 Jokowi.

Ia menyimpulkan bahwa setiap pemerintahan mengalami siklus tujuh tahun ekspansi dan satu tahun resesi.

Menurutnya, jika otoritas ekonomi salah mengambil keputusan pada fase krisis, maka pergantian kekuasaan bisa terjadi seperti pada masa kejatuhan Soeharto dan Gus Dur.

Purbaya mengklaim bahwa dirinya turut memberi masukan penting yang membantu pemerintahan SBY dan Jokowi melewati masa penurunan ekonomi tanpa krisis politik besar.

“Ekonomi jatuh, dia jatuh. Untung ada saya,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ekonomi akan kering jika pertumbuhan uang primer (M0) terlalu rendah.

Purbaya menilai bahwa kebijakan moneter dan fiskal harus saling mendukung untuk menjaga likuiditas.

Ia menyebut pertumbuhan uang primer Indonesia mendekati 0 persen pada pertengahan 2025.

Kondisi tersebut menurutnya menjadi pemicu gelombang demonstrasi besar-besaran di berbagai kota pada akhir Agustus 2025. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved