Berita, Internasional

Foto selfie pilot picu tabrakan jet tempur Korsel senilai Rp2,3 triliun

Repelita.net

02 May 2026 21:11 WIB • 999 view

Foto selfie pilot picu tabrakan jet tempur Korsel senilai Rp2,3 triliun
Foto: Istimewa

Repelita Seoul - Badan Audit dan Inspeksi (BAI) Korea Selatan mengungkapkan bahwa aksi seorang pilot berpangkat mayor yang mengambil foto selfie menggunakan ponsel pribadinya menjadi pemicu utama tabrakan dua jet tempur F-15K Angkatan Udara pada Desember 2021, dengan nilai kerugian aset mencapai 135 juta dolar AS atau sekitar Rp2,3 triliun.

Insiden yang nyaris menewaskan seluruh awak pesawat tersebut terjadi di dekat Daegu ketika sang pilot mencoba mengabadikan momen penerbangan terakhirnya bersama unit militernya melalui swafoto dan video dari kokpit.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan BAI yang dirilis pada 22 April 2026, praktik mengambil foto kenang-kenangan seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan umum di kalangan pilot Angkatan Udara Korea Selatan pada saat itu.

Sang mayor yang bertugas sebagai pilot pesawat pendamping telah menyatakan niatnya untuk melakukan sesi foto dalam pengarahan sebelum penerbangan, lalu ia mengikuti pesawat utama selama misi berlangsung.

Saat rombongan sedang dalam perjalanan pulang menuju pangkalan, ia mulai mengambil gambar menggunakan ponsel pribadinya dengan cara yang sangat membahayakan keselamatan penerbangan.

Pilot pesawat utama yang menyadari aksi tersebut kemudian meminta awak di pesawatnya untuk merekam video pesawat pendamping dari kejauhan.

Tanpa koordinasi yang matang, pilot pendamping tiba-tiba menerbangkan jetnya ke ketinggian yang lebih tinggi dan membalikkan posisi pesawat agar bisa terekam lebih baik oleh kamera rekannya.

Manuver berbahaya ini mengakibatkan kedua pesawat tempur canggih tersebut terbang dengan jarak yang sangat dekat dan saling membahayakan.

Pilot pesawat utama yang berusaha menghindari tubrukan langsung mengambil keputusan untuk menurunkan ketinggian pesawatnya secara drastis, namun upaya tersebut gagal mencegah bencana.

Kedua jet tempur F-15K buatan Amerika Serikat itu akhirnya saling bertabrakan di udara dalam insiden yang nyaris berujung pada kematian seluruh awak.

Meskipun kedua pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa korban jiwa, kerusakan yang dialami sangat parah dengan sayap kiri pesawat utama dan penstabil ekor pesawat pendamping hancur akibat benturan.

Nilai total kedua aset militer tersebut mencapai 135 juta dolar AS (Rp2,3 triliun), sementara biaya perbaikan langsung yang harus dikeluarkan mencapai 880 juta won atau sekitar Rp10,2 miliar.

Pilot yang memicu manuver berbahaya tersebut langsung diskors dari dinas dan kemudian memilih keluar dari militer untuk beralih profesi menjadi pilot maskapai komersial.

Awalnya ia dituntut membayar penuh seluruh biaya perbaikan, namun pilot tersebut mengajukan banding yang memicu penyelidikan lebih lanjut oleh badan audit.

Pilot pendamping mengakui bahwa manuver mendadak yang dilakukannya menjadi penyebab utama tabrakan, tetapi ia berpendapat bahwa pilot pesawat utama secara diam-diam telah menyetujui manuver tersebut.

Berdasarkan pertimbangan tersebut dan rekam jejak pilot yang dinilai baik selama bertugas, badan audit memutuskan bahwa ia hanya perlu membayar 10 persen atau sekitar 87,8 juta won (Rp1 miliar) dari total kerugian.

Dewan audit juga menyoroti kelalaian institusional dengan menyebutkan bahwa Angkatan Udara Korea Selatan harus memikul sebagian tanggung jawab karena tidak mengatur dengan benar penggunaan kamera pribadi.

Pada 23 April 2026, pihak militer akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi secara terbuka dan berjanji akan mereformasi budaya keselamatan penerbangan guna mencegah terulangnya kejadian serupa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung