Repelita Jakarta - Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memunculkan pertanyaan krusial mengenai masa depan negara tersebut dalam sistem teokrasi Syiah yang kompleks.
Proses suksesi kepemimpinan tertinggi diatur oleh Majelis Ahli yang terdiri dari delapan puluh delapan ulama Syiah terpilih setiap delapan tahun.
Majelis tersebut memiliki otoritas tertinggi untuk menunjuk serta memberhentikan pemimpin tertinggi meskipun pemberhentian belum pernah terjadi sepanjang sejarah Republik Islam.
Kandidat yang ingin mencalonkan diri dalam pemilihan Majelis Ahli harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Dewan Wali Konstitusi.
Menurut ketentuan hukum Iran Majelis Ahli diwajibkan memilih pemimpin tertinggi baru sesegera mungkin setelah kekosongan terjadi.
Sementara menunggu pemilihan definitif sebuah dewan kepemimpinan sementara dapat mengambil alih tugas-tugas kepemimpinan.
Dewan sementara tersebut terdiri dari presiden yang sedang menjabat kepala lembaga peradilan serta satu anggota Dewan Wali yang dipilih oleh Dewan Kelayakan.
Dalam kondisi saat ini presiden reformis Masoud Pezeshkian dan kepala peradilan garis keras Gholamhossein Mohseni Ejei menjadi bagian dari dewan tersebut.
Nama-nama calon pengganti pemimpin tertinggi sulit diprediksi secara pasti karena pembahasan suksesi bersifat sangat tertutup.
Sebelumnya Ebrahim Raisi yang dianggap sebagai murid dekat Khamenei dipandang sebagai calon terkuat namun ia meninggal dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.
Kini Mojtaba Khamenei putra kedua almarhum berusia lima puluh enam tahun dan seorang ulama Syiah sering disebut sebagai kandidat potensial meskipun belum pernah menduduki jabatan pemerintahan resmi.
Kemungkinan suksesi ayah ke anak mendapat penolakan dari sebagian masyarakat karena dianggap bertentangan dengan prinsip Islam serta menyerupai pembentukan dinasti baru pasca runtuhnya monarki Shah pada 1979.
Transisi kepemimpinan semacam ini baru terjadi sekali sejak Revolusi Islam 1979 yaitu ketika Ruhollah Khomeini wafat pada 1989 di usia delapan puluh enam tahun.
Peristiwa saat ini juga berlangsung di tengah eskalasi konflik termasuk perang dua belas hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni 2025.
Pengisian kekosongan posisi pemimpin tertinggi menjadi sangat mendesak mengingat peran sentralnya sebagai panglima tertinggi militer serta pengendali Pasukan Garda Revolusi.
Pemimpin tertinggi memiliki keputusan akhir atas seluruh urusan negara termasuk kebijakan luar negeri pertahanan dan pengawasan lembaga-lembaga kekuasaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

