Repelita Teheran - Perang yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memasuki hari ke-15 dengan dampak kemanusiaan yang menghancurkan setelah pemerintah Iran merilis data terbaru yang menunjukkan skala kerusakan infrastruktur sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani membeberkan rincian memprihatinkan dalam konferensi pers pada Sabtu 14 Maret 2026 tentang dampak serangan terhadap warga sipil dan fasilitas publik.
Lebih dari 42.000 unit sipil hancur atau rusak, ribuan warga sipil menjadi korban, dan fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah serta pusat kesehatan tak luput dari gempuran musuh.
Konflik ini bermula pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan kampanye militer skala besar tanpa provokasi ke Iran yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Serangan itu juga menewaskan sejumlah komandan militer senior dan warga sipil yang tidak berdosa dalam agresi mendadak tersebut.
Sejak saat itu Iran melancarkan operasi balasan dengan gelombang rudal dan drone ke wilayah pendudukan dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan sebagai bentuk pembelaan diri.
Dalam komentarnya pada Sabtu 14 Maret 2026 Fatemeh Mohajerani mengumumkan bahwa lebih dari 42.000 unit sipil telah mengalami kerusakan akibat serangan musuh dalam perang agresi yang sedang berlangsung selama 15 hari terakhir.
Memberikan rincian statistik terkait serangan terhadap wilayah sipil ia melaporkan bahwa 42.914 unit sipil telah terdampak dengan rincian yang memprihatinkan.
Dari jumlah tersebut 36.489 unit adalah perumahan termasuk 10.000 unit di provinsi Teheran yang menjadi ibu kota negara.
Ibu kota Iran menjadi salah satu wilayah yang paling parah dihantam serangan udara musuh yang terus berlangsung setiap hari.
Sektor komersial juga tidak luput dengan Mohajerani mencatat bahwa 6.179 unit komersial mengalami kerusakan akibat rentetan serangan yang terus berlangsung tanpa henti.
Data dari Iranian Red Crescent Society mengonfirmasi angka yang sama dengan menyebutkan bahwa serangan udara AS-Israel telah menghancurkan puluhan ribu bangunan sipil sejak perang pecah.
Dari sisi korban jiwa angka yang dirilis pemerintah Iran menunjukkan gambaran yang memilukan dengan jumlah korban tewas perempuan mencapai 223 orang.
Sebanyak 2.729 perempuan dilaporkan terluka akibat serangan yang menyasar wilayah pemukiman padat penduduk.
Sebelumnya pada 12 Maret 2026 Mohajerani mengungkapkan dalam pernyataan televisi bahwa 216 perempuan dan 198 anak di bawah 18 tahun telah menjadi syuhada akibat agresi AS-Zionis.
Ia menyebutkan bahwa korban termuda adalah seorang bayi perempuan berusia delapan bulan yang tewas di kota Rabat Karim akibat serangan rudal.
Sementara korban luka termuda adalah bayi perempuan berusia empat bulan yang selamat namun mengalami luka parah.
Data ini menunjukkan bahwa serangan tidak hanya menyasar infrastruktur militer tetapi juga berdampak besar pada populasi rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling parah terdampak dengan Mohajerani merinci bahwa 43 unit pangkalan darurat telah terdampak dan tiga di antaranya hancur total.
Selain itu 32 ambulans mengalami kerusakan dan lima ambulans beserta dua bus ambulans hilang sepenuhnya akibat gempuran musuh.
Dampak terhadap fasilitas medis juga sangat signifikan dengan juru bicara tersebut mencatat bahwa 35 unit medis dan 152 pusat kesehatan telah terdampak.
Lebih dari 16 korban jiwa dilaporkan di sektor kesehatan termasuk tenaga medis yang gugur saat menjalankan tugas.
Organisasi Kesehatan Dunia sebelumnya telah mengangkat alarm atas situasi ini dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus memperingatkan bahwa sistem kesehatan di seluruh Timur Tengah berada di bawah tekanan luar biasa.
Sistem kesehatan di kawasan berada di ambang kehancuran total akibat serangan yang terus berlangsung.
WHO mendokumentasikan 18 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran sejak awal ofensif yang sangat mengkhawatirkan.
"Serangan-serangan ini tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga menghilangkan perawatan kritis dari masyarakat saat mereka paling membutuhkannya," tegas Tedros.
Sektor pendidikan juga menghadapi dampak yang parah dengan Mohajerani mengumumkan bahwa 120 sekolah mengalami kerusakan signifikan.
Total 206 pendidik dan siswa dilaporkan sebagai korban jiwa akibat serangan terhadap fasilitas pendidikan.
Data dari Armed Conflict Location & Event Data Project mengonfirmasi bahwa area sipil memang terkena dampak serangan secara signifikan.
Sebuah sekolah dasar yang berdekatan dengan kompleks IRGC di Iran tenggara terkena serangan pada hari pertama perang dilaporkan menewaskan hampir 170 anak.
Sebelumnya pada 8 Maret 2026 laporan dari Iranian Red Crescent Society menyebutkan bahwa 65 sekolah dan 14 pusat kesehatan menjadi sasaran serangan AS-Israel.
Surat dari 46 senator Demokrat AS kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth meminta investigasi atas serangan terhadap sekolah perempuan di Iran yang menewaskan puluhan anak.
"Hasil dari serangan sekolah ini mengerikan. Mayoritas dari mereka yang tewas dalam serangan itu adalah anak perempuan berusia antara 7 dan 12 tahun," bunyi surat tersebut.
Mohajerani menjelaskan respons pemerintah terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur perkotaan dengan seluruh pemangku kepentingan di sektor air dan listrik segera bergerak menangani kerusakan.
Tim teknis langsung melakukan perbaikan di berbagai titik yang terdampak dengan sebanyak 229 lokasi pada jaringan listrik menjadi prioritas perbaikan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memulihkan pasokan listrik secepat mungkin bagi warga yang terdampak.
Juru bicara tersebut juga menjelaskan layanan kota yang diberikan kepada warga dengan pemerintah kota segera menyediakan tempat penampungan bagi warga terdampak.
Sekitar 1.000 keluarga telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dengan jumlah itu mencakup lebih dari 3.000 orang yang mengungsi.
Mereka kini ditampung di 12 kompleks perumahan yang disiapkan pemerintah kota Teheran untuk sementara waktu.
Sementara itu badan pengungsi PBB memperkirakan bahwa hingga 3,2 juta orang telah mengungsi di Iran sejak perang dimulai.
Skala krisis kemanusiaan ini terus membesar seiring dengan berlanjutnya konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
ACLED mencatat ratusan serangan di setidaknya 26 dari 31 provinsi Iran dengan Teheran sebagai lokasi yang paling banyak menjadi target.
Sebagai tanggapan Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan-pangkalan regional.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan perang memasuki "fase penentuan" meskipun ia memperingatkan bahwa perang akan "berlanjut selama yang diperlukan".
Di tengah eskalasi ini Mohajerani menyoroti ketahanan warga Iran yang tetap turun ke jalan meskipun dalam ancaman serangan.
"Sementara di negara lain di dunia orang-orang pergi ke tempat perlindungan selama pemboman, kami menyaksikan warga negara kami turun ke jalan untuk menyuarakan pendapat mereka bahkan saat serangan terus berlanjut," katanya merujuk pada partisipasi dalam rapat Hari Quds pada Jumat 14 Maret 2026 lalu.
Dengan korban jiwa yang terus bertambah dan infrastruktur sipil yang hancur masyarakat internasional menghadapi tekanan untuk campur tangan menghentikan konflik.
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyerukan tindakan global dengan mengatakan "Masyarakat internasional harus bertindak sekarang untuk menghentikan perang berdarah ini terhadap rakyat Iran".(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

