Repelita Teheran - Dua pekan lebih sudah konflik terbuka antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel berlangsung dan memasuki hari ke-16 Teheran kembali menunjukkan taringnya dengan meluncurkan serangan balasan gelombang ke-46.
Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan balasan gelombang ke-46 ke sejumlah wilayah di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk pada Senin 16 Maret 2026 demikian laporan CGTN News.
Serangan terbaru ini menegaskan eskalasi yang terus meningkat di mana Iran kini mengandalkan rudal balistik canggih Kheibar Shekan untuk menghantam target-target strategis milik musuh.
Serangan tersebut menunjukkan kemampuan militer Iran yang makin beringas terhadap dua musuh besarnya tersebut dengan teknologi rudal terkini yang sulit dicegat.
Data yang dihimpun menyebut Teheran kini melakukan serangan dengan menggunakan rudal balistik Kheibar Shekan yang memiliki akurasi tinggi dan daya rusak luar biasa.
Sasaran utamanya adalah wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah termasuk Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas Korps Garda Revolusi Islam Iran menyebutkan dalam gelombang serangan yang mereka sebut sebagai operasi True Promise 4 sejumlah rudal balistik berbahan bakar padat Kheibar Shekan diluncurkan ke berbagai target militer.
Serangan tersebut tidak hanya menyasar fasilitas militer Israel tetapi juga beberapa lokasi yang disebut sebagai tempat penempatan pasukan Amerika di kawasan Teluk.
Target terbaru dikabarkan mencakup pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain di mana Iran menggunakan hulu ledak seberat satu ton untuk pertama kalinya dalam serangan ini.
Dalam operasi itu IRGC juga bekerja sama dengan kelompok Hizbullah yang meluncurkan drone tempur untuk menyerang posisi militer Israel di perbatasan utara.
Peluncuran rudal dan drone secara bersamaan ini menunjukkan bagaimana Republik Islam itu mencoba menggabungkan berbagai jenis serangan untuk menekan pertahanan lawan.
Total sejak konflik dimulai Iran telah meluncurkan lebih dari 2.400 drone Shahed-136 setidaknya 789 rudal balistik dan 39 rudal jelajah standar ke berbagai target.
Kheibar Shekan merupakan rudal balistik berbahan bakar padat generasi baru yang diperkenalkan Iran pada tahun 2022 dengan panjang sekitar 11 meter dan jangkauan hingga 1.450 kilometer.
Jarak tersebut memungkinkan rudal ini menjangkau wilayah Israel jika diluncurkan dari Teheran atau wilayah barat Iran dengan waktu tempuh singkat.
Sumber lain menyebutkan jangkauan rudal ini dapat mencapai 1.500 kilometer dengan hulu ledak seberat setengah ton yang mampu menghancurkan target besar.
Penggunaan bahan bakar padat menjadi salah satu keunggulan utama rudal ini karena dengan teknologi tersebut rudal dapat disiapkan untuk peluncuran dalam waktu relatif singkat.
Para insinyur militer Iran bahkan mengklaim rudal ini dapat siap diluncurkan dalam waktu kurang dari 15 menit sehingga sulit dideteksi musuh.
Kemampuan tersebut membuat sistem ini lebih fleksibel dan sulit dihentikan sebelum diluncurkan karena peluncur bergerak dapat disembunyikan di mana saja.
Salah satu fitur yang paling menonjol dari Kheibar Shekan adalah tingkat presisinya yang tinggi dengan menggunakan sistem panduan satelit.
Rudal ini menggunakan sistem panduan satelit yang membantu mengarahkan hulu ledak menuju target secara lebih akurat dibandingkan generasi rudal sebelumnya.
Selain itu rudal ini dilengkapi teknologi Maneuverable Reentry Vehicle yang menggabungkan hulu ledak rudal balistik dengan kemampuan untuk mengubah jalur penerbangannya.
Teknologi itu memungkinkan hulu ledak untuk bermanuver setelah memasuki kembali atmosfer bumi terutama pada fase akhir sebelum mengenai target.
Kemampuan bermanuver tersebut membuat jalur terbang rudal menjadi tidak mudah diprediksi oleh sistem pertahanan musuh.
Akibatnya sistem pertahanan udara seperti Iron Dome Patriot maupun David's Sling menjadi lebih sulit untuk mencegatnya karena perubahan arah yang tiba-tiba.
Rudal ini juga memiliki kecepatan yang sangat tinggi bahkan dapat mencapai lebih dari Mach 8 saat fase akhir penerbangan sehingga waktu reaksi sangat singkat.
Dengan kecepatan tersebut waktu yang dimiliki sistem pertahanan udara untuk bereaksi menjadi jauh lebih singkat dan seringkali tidak mencukupi.
Selain cepat dan akurat Kheibar Shekan juga dirancang dengan desain yang lebih sederhana dan efisien dengan mengurangi komponen eksternal tertentu.
Para insinyur Iran mengurangi komponen eksternal tertentu seperti aileron untuk mengurangi hambatan udara dan meningkatkan aerodinamika.
Desain ini membuat rudal dapat melaju lebih cepat sekaligus meningkatkan akurasi saat menghantam target yang telah ditentukan.
Tidak hanya itu rudal ini juga dirancang agar dapat diluncurkan dari berbagai platform bergerak termasuk kendaraan komersial yang dimodifikasi.
Menurut sejumlah laporan Kheibar Shekan bahkan bisa diluncurkan dari kendaraan komersial yang dimodifikasi sehingga sulit dideteksi intelijen musuh.
Kemampuan tersebut membuat rudal ini lebih sulit dideteksi sebelum diluncurkan sekaligus mempersulit musuh untuk menghancurkannya lebih dulu.
Pengembangan rudal seperti Kheibar Shekan menunjukkan bagaimana Iran terus meningkatkan teknologi militernya terutama di bidang sistem rudal selama lebih dari satu dekade terakhir.
Teheran diketahui fokus pada peningkatan teknologi presisi panduan dan aerodinamika pada senjata jarak jauhnya untuk mengimbangi keterbatasan pada peralatan militer konvensional.
Langkah ini juga dipandang sebagai strategi untuk mengimbangi keterbatasan pada peralatan militer konvensional seperti tank dan pesawat tempur yang sebagian besar sudah berusia tua.
Dengan rudal jarak jauh yang presisi dan sulit dicegat Republik Islam tersebut ingin menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki kemampuan untuk menyerang target strategis yang jauh.
Pesan tersebut tidak hanya ditujukkan kepada lawan tetapi juga kepada sekutu di kawasan bahwa Iran adalah kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh.
Terbaru IRGC mengumumkan bahwa ke depan mereka hanya akan meluncurkan rudal dengan hulu ledak minimal satu ton meningkatkan daya rusak secara signifikan.
Stok rudal pencegat Patriot milik AS dilaporkan mulai menipis akibat intensitas penggunaan sistem pertahanan tersebut saat menghadapi gempuran Iran.
Dikutip dari berbagai sumber intensitas serangan drone dan rudal dari Iran telah menekan sistem pertahanan udara AS di kawasan Teluk hingga berada di titik kritis.
Data yang dihimpun menyebutkan untuk melumpuhkan satu rudal balistik dari Teheran sering kali dibutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat Patriot.
Bahkan dalam sebuah insiden yang terekam 10 rudal Patriot dikerahkan untuk menembak jatuh satu rudal Iran yang menunjukkan betapa sulitnya mencegat serangan.
Ini mempercepat pengurasan stok rudal pencegat yang dimiliki Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.
Sedangkan Iran diperkirakan memiliki lebih dari 2.000 rudal balistik sementara stok pencegat milik AS dan Israel maupun sekutu di kawasan Timur Tengah dilaporkan sangat terbatas.
Mark Cancian peneliti dari CSIS memperkirakan bahwa sekitar 1.600 rudal Patriot yang dimiliki AS kemungkinan besar hampir habis hanya dalam beberapa hari pertama konflik.
Amerika kian dihadapi persoalan yang makin sulit lantaran memproduksi rudal Patriot tidaklah instan dan membutuhkan waktu yang lama.
Saat ini produksi berada di angka sekitar 600 unit per tahun jauh di bawah kebutuhan yang diperlukan untuk menghadapi gempuran Iran.
Meskipun Lockheed Martin berupaya meningkatkan kapasitas hingga 2.000 unit per tahun target tersebut diperkirakan baru tercapai pada akhir 2030 mendatang.
Pakar militer Rusia Yuri Knutov memperkirakan stok pencegat THAAD sekitar 400 unit bisa habis dalam 10 hari sementara Patriot bisa bertahan hingga tiga minggu jika digunakan secara intensif.
Akibat pasokan yang terbatas Departemen Pertahanan AS sempat dilaporkan menyetop pengiriman rudal ke Ukraina guna menjaga kesiapan tempur mereka sendiri di Timur Tengah.
Sementara itu Presiden Donald Trump dilaporkan telah mendesak perusahaan pertahanan untuk melipatgandakan produksi guna mengatasi kekurangan amunisi di tengah gempuran Iran.
AS juga mempertimbangkan untuk memindahkan sistem Patriot dari lokasi lain seperti Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan di area yang lebih kritis.
Namun pernyataan resmi pemerintah AS mencoba meredam kekhawatiran dengan menyatakan bahwa persediaan amunisi masih mencukupi untuk melanjutkan perang.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan "Kami tidak kekurangan amunisi" dan "Persediaan senjata defensif dan ofensif akan memungkinkan kami melanjutkan operasi sesuai kebutuhan".
Di sisi lain negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi kini berada di garis depan dalam menghadapi hujan rudal balistik dan drone Shahed yang diluncurkan Teheran.
Akibatnya stok rudal pencegat Patriot yang mereka miliki pun kini berada di titik kritis dan hampir habis setelah berminggu-minggu menghadapi serangan.
Sejauh ini mengacu pada sumber terbuka minimal sebanyak 800 rudal balistik Iran telah ditembakkan ke arah negara-negara Teluk sebagai bagian dari operasi balasan.
Artinya sedikitnya 1.600 rudal Patriot sudah dilepaskan untuk menangkis serangan tersebut karena negara-negara Teluk tidak mau mengalami kehancuran lebih besar.
Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa sejak 28 Februari mereka telah mencegat total 278 rudal balistik 15 rudal jelajah dan 1.540 drone.
Serangan tersebut telah menewaskan enam orang dan melukai 131 lainnya di wilayah UEA yang menjadi korban konflik.
Kondisi genting juga terjadi di Israel dengan laporan terbaru per Maret 2026 mengonfirmasi bahwa stok rudal pencegat Zionis memang dalam kondisi menipis.
Itu terjadi akibat intensitas perang yang tinggi dengan Iran yang terus meluncurkan serangan tanpa henti.
Dikutip dari berbagai sumber militer Israel dilaporkan mulai kehabisan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara mereka seperti Arrow dan Iron Dome.
Pada 14 Maret seorang pejabat Amerika mengonfirmasi bahwa Israel telah memberi tahu AS bahwa stok rudal pencegat balistik mereka hampir "sangat kekurangan".
Sejumlah penilaian intelijen menunjukkan bahwa tanpa pengisian ulang stok dari Amerika Serikat Israel diperkirakan hanya mampu mempertahankan pertahanan udaranya selama 10 hingga 12 hari.
Jika intensitas serangan Iran tetap tinggi seperti sekarang maka sistem pertahanan Israel akan kolaps dan Israel bisa "lenyap" dari peta pertahanan.
Besarnya volume serangan rudal balistik jelajah dan hipersonik dari Iran telah mengungkapkan titik lemah sistem pertahanan udara Israel.
Akibat stok yang terbatas militer Israel kini harus memilih prioritas target mana yang akan dicegat dan membiarkan rudal jatuh di wilayah tak berpenghuni.
Disitat dari kabar yang beredar Amerika Serikat tengah berupaya memperkuat pertahanan udara Israel dengan mengirimkan pasokan rudal pencegat tambahan.
Namun AS sendiri menghadapi kendala karena persediaan mereka juga mulai terbatas setelah mengirim banyak bantuan ke Israel dan sekutu lainnya.
Menanggapi situasi ini pemerintah Israel telah menambah anggaran pertahanan sebesar 28 miliar shekel sehingga total anggaran pertahanan tahun ini mencapai 140 miliar shekel.
Namun di tengah gempuran gelombang ke-46 dan ancaman rudal Kheibar Shekan yang sulit dihentikan anggaran sebesar itu mungkin tidak akan cukup jika stok pencegat benar-benar habis.
Konflik yang telah memasuki hari ke-16 ini terus berlanjut dengan intensitas tinggi tanpa tanda-tanda akan segera mereda dalam waktu dekat.
Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi yang semakin kompleks dan berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

