Repelita Teheran - Iran menyatakan stok rudal mereka melimpah dan siap digunakan secara masif untuk menyambut kemungkinan invasi pasukan darat Amerika Serikat di wilayah mereka.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi secara terbuka menantang Washington agar segera mengerahkan tentara darat jika berani karena angkatan bersenjata Teheran telah bersiap penuh di medan tempur.
Pernyataan itu disampaikan di tengah spekulasi tinggi setelah Angkatan Darat AS membatalkan latihan besar Divisi Lintas Udara ke-82 di Fort Bragg Carolina Utara.
Pembatalan latihan tersebut memicu dugaan di Pentagon bahwa pasukan spesialis pertempuran darat mungkin akan dikerahkan ke Timur Tengah untuk operasi melawan Iran.
Langkah itu menunjukkan potensi pergeseran strategi dari serangan udara menuju invasi darat yang lebih luas dan intensif.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui bahwa senjata Korps Garda Revolusi Islam memiliki daya hancur besar yang dapat menimbulkan kerugian signifikan bagi pasukan penyerang.
Juru bicara IRGC Ali Mohammad Naeini menegaskan bahwa militer Iran mampu menjalani perang skala penuh berintensitas tinggi selama enam bulan tanpa mengalami kendala berarti.
Kemampuan militer IRGC masih jauh dari batas maksimum dengan berbagai senjata strategi dan taktik telah disiapkan secara matang untuk konflik berkepanjangan.
Rudal balistik berat rudal jelajah drone serta kapal serang telah diatur sesuai kebutuhan perang habis-habisan melawan musuh.
Naeini menjelaskan bahwa rudal yang dikerahkan sejauh ini mayoritas generasi lama produksi tahun 2012 hingga 2013.
Iran belum menggunakan satupun rudal yang diproduksi dalam satu dekade terakhir meskipun kapasitas produksi telah meningkat berlipat ganda.
Produksi rudal melonjak drastis dalam beberapa tahun belakangan sehingga jumlah yang dihasilkan mencapai skala sangat besar.
Antara periode perang 12 hari dan perang Ramadan Iran berhasil memproduksi rudal setara dengan output beberapa tahun sebelumnya.
Stok rudal yang melimpah ini diyakini menjadi senjata utama untuk menghadapi pasukan darat Amerika jika invasi benar-benar terjadi.
Sejumlah analis memperkirakan Amerika Serikat mungkin akan meningkatkan skala operasi militernya dalam waktu dekat meskipun belum ada kepastian resmi dari Presiden Donald Trump.
Tujuan operasi Washington diduga tidak hanya membatasi kekuatan rudal Iran melainkan juga berpotensi menggulingkan kepemimpinan di Teheran.
Data intelijen yang diduga berasal dari Rusia mengungkap kerugian berat Israel dalam tiga hari pertama agresi ke Iran dengan lebih dari 1.200 korban jiwa termasuk jenderal perwira dan ilmuwan nuklir.
Israel belum memberikan konfirmasi maupun bantahan resmi terhadap angka-angka tersebut.
Konflik yang semakin memanas ini menempatkan Iran pada posisi siap menyambut pasukan darat Amerika dengan kekuatan rudal yang masih jauh dari habis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

