Repelita Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut program Makan Bergizi Gratis di Indonesia lebih unggul dibandingkan program serupa di Jepang dan Eropa memicu tanggapan kritis dari pegiat media sosial Herwin Sudikta.
Ia menilai keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang disalurkan kepada masyarakat.
Menurut Herwin aspek kualitas dan dampak kesehatan bagi penerima manfaat harus menjadi fokus utama dalam mengevaluasi keberhasilan MBG.
Kuantitas boleh besar, ujar Herwin melalui cuitannya di X pada Minggu 8 Maret 2026.
Namun ia menegaskan bahwa membanggakan jumlah distribusi tanpa memastikan mutu makanan justru dapat menimbulkan masalah serius.
Herwin menyoroti laporan kasus keracunan yang dialami sejumlah anak sebagai penerima manfaat program tersebut.
Tapi kalau kualitasnya sampai bikin anak-anak keracunan, kenapa perbandingannya tidak sekalian saja, tegasnya.
Ia mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh dengan mempertimbangkan semua aspek termasuk dampak negatif yang muncul.
Herwin juga mengusulkan agar perbandingan dengan negara lain mencakup rasio antara jumlah porsi yang dibagikan dan kasus keracunan yang terjadi.
Berapa porsi dibagikan vs berapa korban keracunan, tuturnya.
Menurutnya keunggulan kuantitas menjadi tidak berarti jika kualitas makanan menyebabkan gangguan kesehatan bagi penerima.
Percuma ngebanggain kuantitas kalau kualitasnya sampai bikin kasus keracunan, tandasnya.
Ia menekankan bahwa parameter keberhasilan seharusnya mencakup dampak nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan penerima manfaat.
Harusnya yang perlu dihitung itu bukan cuma jumlah porsinya, tapi jumlah korbannya, pungkasnya.
Sebelumnya Presiden Prabowo menyampaikan laporan terbaru tentang pelaksanaan MBG saat meresmikan 1.079 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Polri di Jakarta Barat pada Jumat 13 Februari 2026.
Ia mengklaim statistik program MBG Indonesia menunjukkan capaian lebih baik dibandingkan Jepang dan beberapa negara Eropa meski perlu verifikasi lebih lanjut.
Prabowo juga mengakui adanya laporan gangguan kesehatan seperti keracunan yang dialami penerima manfaat namun menyebut jumlahnya sangat kecil.
Sampai hari ini kurang lebih sudah 28 ribu penerima manfaat yang menerima gangguan, dikatakan keracunan, sakit perut dan sebagainya. 28 ribu dari 4,5 miliar. Kalau tidak salah itu adalah 0,006 artinya 99,994, ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa secara statistik angka tersebut menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 99,994 persen yang menurutnya sangat tinggi.
Itu kalau statistik, itu kan dibulatkan ke atas. 99,994 itu berhasil itu. Di mana ada usaha manusia yang 100 persen, tambahnya.
Prabowo menyebut laporan tersebut diterimanya dua hari sebelum acara peresmian dan berharap capaian ini dapat terus dipertahankan.
Saya baru dapat laporan dua hari yang lalu. Kalau demikian, ya kita tidak boleh terlalu kecil hati, tegasnya.
Meski mengklaim keberhasilan ia mengingatkan jajarannya untuk menghindari sikap sombong yang dapat menjadi awal kemunduran.
Jangan kita sombong, jangan kita petantang petenteng. Kesombongan adalah awal dari kehancuran, katanya.
Ia menegaskan pentingnya sikap rendah hati sebagaimana filosofi ilmu padi dari leluhur untuk terus memperbaiki program ke depannya.
Ingat itu. Semakin berisi, semakin menunduk. Itu adalah ilmu padi dari nenek moyang kita. Itu adalah ilmu pendekar, pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

