Repelita Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan membatalkan rencana pengerahan pasukan darat untuk menyerang Iran setelah sebelumnya sempat menyatakan akan menggulingkan rezim Teheran.
Keputusan tersebut muncul menyusul serangan balasan Iran yang menghantam sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat serta beberapa kota di Israel sehingga mengubah kalkulasi strategis di Washington.
Laporan terbaru pada enam Maret dua ribu dua puluh enam menunjukkan bahwa Trump tampaknya telah mengurungkan niat invasi darat karena penilaian bahwa Iran memiliki keunggulan signifikan di medan pertempuran darat.
Sekembalinya ke Gedung Putih pada awal Maret Trump memilih untuk tidak memberikan keterangan rinci saat ditanya wartawan mengenai operasi militer atau langkah selanjutnya terhadap Teheran.
Meskipun menahan diri dari invasi darat Trump tetap mengklaim bahwa serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel telah berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran serta menyatakan bahwa militernya telah meraih kemenangan dalam konfrontasi tersebut.
Tekanan internal di Amerika Serikat serta kurangnya dukungan penuh dari sekutu internasional seperti Inggris Spanyol dan NATO menjadi salah satu faktor penghambat rencana agresi darat skala besar.
Trump sempat mengkritik keras negara-negara tersebut karena menolak membantu rencana serangan militer langsung ke wilayah Teheran.
Alih-alih invasi darat Trump memperkuat tekanan melalui sanksi ekonomi termasuk perintah eksekutif untuk mengenakan tarif bagi negara yang masih berdagang dengan Iran.
Merespons ancaman tersebut tokoh senior Iran Ali Larijani menyatakan bahwa pasukannya siap menghadapi tentara Amerika di lapangan perang sebagai tantangan langsung terhadap potensi invasi darat.
Kami tidak akan bernegosiasi.
Larijani menegaskan bahwa pemboman tidak akan pernah berhenti bahkan setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei serta mengkritik Trump karena mengubah kebijakan America First menjadi Israel First.
Ia menuduh Trump mengorbankan tentara Amerika Serikat demi ambisi Israel sehingga Teheran kini fokus pada hak membela diri dan melakukan pembalasan tanpa ruang kompromi.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa pemerintahnya telah menerima usulan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator perdamaian.
Namun Iran menegaskan tidak akan menerima negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat karena tidak mempercayai pihak tersebut setelah tiga kali pengalaman negosiasi diakhiri dengan serangan.
Yang terhormat Presiden Indonesia usulan ini telah diajukan dan tanggapan kami adalah kami tidak akan menerima negosiasi apa pun dengan musuh karena kami tidak mempercayai mereka.
Kami telah bernegosiasi dengan mereka tiga kali dan ketiga kalinya mereka menyerang kami di akhir negosiasi atau di tengah negosiasi. Untuk kali ini kami akan membereskan musuh di lapangan perang.
Korps Garda Republik Islam IRGC tetap menyatakan keinginan untuk melanjutkan perang meskipun tawaran mediasi dari berbagai pihak termasuk Indonesia telah muncul.
Perang di Timur Tengah terus berkecamuk tanpa tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

